Lisan Episode Ke-30: Memahami Budaya Melalui Bahasa

oleh Narabahasa

Tidak terasa, Selisik Kebahasaan (Lisan) sudah mencapai episode ke-30. Kali ini, Lisan menghadirkan Prof. Dr. Dra. Ni Wayan Sartini, M.Hum., dosen linguistik Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga untuk memaparkan topik berjudul “Etnolinguistik: Jejak Budaya dalam Bahasa”. Program ini dipandu oleh  Dita Sabariah dari Magister Linguistik UI 2014 selaku moderator.

Budaya dan bahasa adalah dua hal yang saling terhubung, bahkan bisa dibilang tidak dapat dipisahkan. “Bahasa dan budaya itu seperti dua sisi mata uang karena bahasa bukan berada di ruang yang kosong. Ia tumbuh dan berkembang dalam konteks sosial. Bahasa bisa dianggap sebagai cermin dan arsip budaya,” ujar Ni Wayan. 

Bahasa melalui perspektif etnolinguistik juga tidak hanya didefinisikan sebagai alat komunikasi. Bahasa dipandang sebagai suatu tempat untuk menampung nilai-nilai dari masyarakatnya. “Definisi bahasa lebih dalam dari sekadar alat komunikasi. Ia adalah wadah nilai dari pengetahuan dan identitas kolektif suatu masyarakat. Nilainya terserap dalam setiap kata, ungkapan, dan struktur dari bahasa itu sendiri,” jelasnya.

Definisi ini memantik pertanyaan dari salah satu peserta. “Sering kali struktur bahasa yang kita pelajari sebagai kekayaan budaya memiliki residu patriarki. Bagaimana etnolinguistik menyikapi struktur bahasa tradisional yang dianggap mereproduksi nilai patriarki?” ujar Ali Yasin. 

Ni Wayan menjawab dengan menjelaskan sifat dari penelitian etnolinguistik sekaligus tidak memungkiri nilai-nilai yang terkandung dalam suatu bahasa. “Bahasa memang merekam banyak hal dan salah satunya adalah patriarki atau stratifikasi sosial. Di sisi lain, penelitian etnolinguistik memiliki sifat deskriptif yang menghasilkan fakta-fakta budaya yang direpresentasikan oleh bahasanya. Apakah kita harus memperbaiki? Tentu kita tidak bisa asal memperbaiki budaya yang sudah ada. Jadi, etnolinguistik ini hanya membongkar dan menunjukkan fakta tentang suatu bahasa,” jelasnya.

Terakhir, Ni Wayan menyampaikan bahwa bahasa meninggalkan jejak yang bisa dimaknai sebagai jejak dari kehidupan. Bahasa bisa menjadi sumber bagi kita untuk memahami suatu masyarakat. “Jejak budaya dalam bahasa adalah jejak kehidupan. Selama bahasa masih dituturkan, maka selama itu pula budaya hidup. Di dalam bahasa, tersimpan ingatan, nilai, dan cara manusia memaknai dunia,” pungkasnya.

Melalui Lisan episode ke-30, Narabahasa berharap masyarakat makin menyadari bahwa bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga medium untuk memahami nilai dan identitas budaya. Pendekatan etnolinguistik diharapkan dapat membuka cara pandang yang lebih utuh terhadap kompleksitas kehidupan masyarakat. 

Penulis: Tuah Ananda Setiawan

Penyunting: Rifka Az-zahra

Anda mungkin tertarik membaca

Tinggalkan Komentar