Narabahasa menyelenggarakan Safari Profesi bertajuk “Merakit Kisah Perjalanan yang Asyik di Media Sosial” pada Sabtu, 11 Desember 2021, melalui ruang Zoom. Innezdhe Ayang Marhaeni, calon widyaiswara di Narabahasa, menjadi pembicara dalam acara itu.

Kepada peserta, Innezdhe berbagi kiat menyusun cerita perjalanan di media sosial. Menurutnya, sebelum menulis, setiap orang terlebih dahulu harus memiliki bahan cerita perjalanan. Setelahnya, pengemasan bahan tersebut—teks, gambar, video, atau audio—ditentukan.

Ia melanjutkan, ada lima komponen penting ketika menyusun sebuah cerita perjalanan, yakni diri, liyan, pergerakan dan ruang, pertemuan, serta agenda dan penulisan.

Pada komponen diri, Innezdhe mengatakan bahwa ada diri atau subjek yang diceritakan dalam cerita tersebut, baik diri sendiri maupun orang lain.

“Umumnya, cerita perjalanan itu bersifat faktual karena mereka benar-benar melakukan perjalanan. Namun, jika membuka pandangan yang lebih luas, kita dapat melihat bahwa sebenarnya banyak juga para penulis yang mengimplisitkan cerita mereka dalam tokoh fiksi,” ujar Innezdhe.

Pada komponen liyan, ia berkata bahwa tiap penulis dapat menceritakan berbagai hal yang ada di sekitarnya, seperti tokoh, budaya dan kekhasan daerah, kuliner, arsitektur, kendaraan, dan lanskap.

Selanjutnya, pada komponen pergerakan dan ruang, Innezdhe menyampaikan bahwa karakteristik para penulis cerita perjalanan itu bukan menceritakan tempat, melainkan kedua hal tersebut.

“Bahkan, mereka ada yang merasa bahwa tujuan tidaklah begitu penting, tetapi cara mereka berpindah dari satu ruang ke ruang lainnya itu lebih penting,” lanjutnya.

Pada komponen pertemuan, ia mengatakan bahwa tiap penulis juga dapat menceritakan dirinya ketika bertemu dengan orang ataupun hal lainnya saat melakukan perjalanan.

Komponen yang terakhir ialah agenda dan penulisan. Menurutnya, tiap penulis perlu menggunakan gaya penceritaan yang merepresentasikan persona dirinya di media sosial. Setelahnya, formula cerita perlu dikembangkan seiring sepak terjang penulis di media sosial.

Ia juga menjelaskan laras bahasa yang digunakan saat bercerita di media sosial. Menurut Innezdhe, cerita perjalanan termasuk dalam laras bahasa kreatif. Cirinya terletak pada paragraf dan kalimatnya yang pendek, pilihan katanya yang santai, serta ejaannya yang kreatif.

***

Penulis: Rassya Priyandira
Penyunting: Harrits Rizqi