September ini, Tanya Jawab Kebahasaan (Tabah) memasuki episode ke-187 yang dilaksanakan melalui siaran langsung Instagram pada Kamis, 24 September 2026, pukul 19.00 s.d. 20.00 WIB. Berbeda dengan episode sebelumnya, kali ini Tabah mengundang Komunitas Bale Buku Jakarta untuk berbagi pengalaman dalam menjalankan program literasi kepada peserta. 

Episode ini dimoderatori oleh Haifa Inaya yang membuka siaran langsung sekaligus menyambut Ivan Lanin dan Fajar Alvarisi. Diskusi diawali dengan membahas sejarah terbentuknya Komunitas Bale Buku Jakarta bersama Fajar selaku pendiri sekaligus ketua umum. Fajar menyampaikan bahwa komunitas ini bermula dari keresahan generasi muda terhadap maraknya penggunaan gawai pada anak-anak. “Komunitas ini hadir dari perkampungan, terutama di Cakung dan tiga belas titik di Jakarta Timur, Jakarta Utara, Bekasi, dan Jawa Barat, dengan harapan agar pemerataan literasi tak hanya dapat dijangkau di wilayah perkotaan, tetapi juga di sudut-sudut kota,” ungkap Fajar. 

Fajar menyampaikan bahwa Bale Buku Jakarta hadir ketika wabah Covid-19 melanda di seluruh Indonesia. “Pandemi dan kebijakan akses keluar rumah memicu naiknya penggunaan gawai dan menurunnya aktivitas membaca buku di daerah kami. Dari sana, kami mencoba untuk menciptakan pojok baca literasi dengan memanfaatkan fasilitas kampung, seperti poskamling, agar anak-anak dapat memanfaatkan waktu kosong selama belajar dari rumah dengan membaca buku,” ujarnya.

Komunitas yang lahir pada 20 Agustus 2020 ini mampu menghadirkan pusat baca anak-anak hingga meraih penghargaan sebagai komunitas literasi terbaik di DKI Jakarta 2024 oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DISPUSIP) DKI Jakarta. Pada sesi yang sama, Fajar juga mengaku bahwa buku-buku yang terhimpun dalam pojok buku tersebut berasal dari donasi buku, tetapi saat ini mereka juga kerap mendapatkan bantuan berupa buku dari perpustakaan, dinas, dan juga komunitas literasi lainnya. 

Diskusi kemudian beralih pada pertanyaan langsung yang masuk seputar kebahasaan yang mengarah pada persoalan kedinamisan bahasa yang mengikuti penggunaannya. Menanggapi hal itu, Ivan Lanin menjelaskan bahwa penggunaan bahasa yang baik dipengaruhi oleh konteks, sementara penggunaan yang benar berkaitan dengan keteraturan dalam menyampaikan gagasan. 

Pembahasan berlanjut dengan mendiskusikan ketepatan istilah penggunaan padanan refrigerated truck dalam bahasa Indonesia. Pertanyaan tersebut menawarkan beberapa pilihan padanan, seperti truk pendingin, truk berpendingin, atau truk dingin. “Saya rasa truk berpendingin lebih sesuai,” jelas Ivan. Kedua pembahasan tersebut akhirnya memperlihatkan bahwa penggunaan bahasa yang baik dan benar tak hanya berkaitan dengan kaidah, tetapi juga keselarasan dengan konteks sekaligus pemilihan bentuk yang tepat untuk menyampaikan makna. 

Berbagai isu kebahasaan menjadi bahasan dalam Tabah kali ini, mulai dari pemberdayaan literasi sejak dini, program literasi komunitas, perkembangan bahasa, pemilihan dan pembentukan istilah, hingga padanan kata dalam bahasa Indonesia. Pertanyaan yang dibahas tersebut menunjukkan bahwa fenomena bahasa terus berkelindan erat dengan konteks penggunaannya sekaligus menuntut penggunanya agar tepat dalam memilih bentuk untuk menyampaikan gagasan. 

Penulis: Jovita Dwi Swistika Murti

Penyunting: Rifka Az-zahra