Lisan Episode Ke-39: Memperkaya Strategi Berbahasa dalam Budaya Komunikasi
Selisik Kebahasaan (Lisan) sebagai program rutin dari Narabahasa sudah memasuki episode ke-39 pada Oktober ini. Kali ini, Lisan menggandeng Prima Asteria Vidya, dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) sebagai narasumber. Program ini digelar pada Selasa, 29 September 2026 pukul 19.00 s.d. 20.30 WIB secara daring melalui Zoom dan siaran langsung YouTube. Topik yang diangkat dalam Lisan episode ini berfokus pada linguistik tataran pragmatik yang pembahasannya dikerucutkan seputar kesantunan dan strategi berbahasa, terutama dalam ruang komunikasi digital.
Lisan dibuka oleh Haifa Inaya selaku moderator dengan menyambut peserta sekaligus Prima Asteria sebagai narasumber. Sebelum sesi pemaparan dimulai, Haifa mengajak Prima berbincang singkat perihal pengalamannya dalam menyusun penelitian berjudul “Basa-basi dalam Sapaan: Studi Pragmatik terhadap Kesantunan Berkomunikasi Masyarakat Indonesia” yang cukup relevan dengan topik Lisan kali ini.
Prima mengungkapkan bahwa penelitian tersebut mampu membuatnya belajar hingga akhirnya tertarik untuk melanjutkan penelitian dalam bidang budaya komunikasi, khususnya bagi pemelajar asing. “Saya kira saat ini orang yang mahir berbahasa sesuai konteks dengan baik dan benar sangat berpotensi untuk sukses,” ungkap Prima. Hal ini ia benturkan dengan penggunaan bahasa yang santun, jelas, dan teratur sehingga mampu meyakinkan banyak orang.
Berikutnya, sesi pemaparan dimulai lewat tayangan salindia materi yang sudah disiapkan oleh Prima. Materi yang disajikan cukup lengkap yang dipetakan menjadi lima bagian besar, yakni konsep dasar pragmatik, teori kesantunan, strategi kesantunan, penerapan dalam kehidupan, serta pertimbangan konteks dan budaya. Prima tidak langsung masuk pada topik kesantunan, melainkan mengajak peserta untuk memahami terlebih dahulu kesinambungan teori semantik dengan pragmatik yang dibatasi dengan konteks. “Konteks bukan sekadar menjadi tempat percakapan yang memiliki makna, melainkan membentuk inferensi yang menghasilkan makna pragmatik,” jelasnya.
Setelah sesi pemaparan selesai, Lisan dilanjutkan dengan diskusi berupa tanya jawab peserta dengan narasumber. Topik yang didiskusikan cukup beragam, mulai dari pengalaman peserta sebagai suami yang kerap dititipi pesan oleh istrinya, etika berbahasa dalam komunikasi digital, hingga strategi berbahasa sebagai pengajar kepada wali murid.
Menariknya, pada sesi akhir diskusi, Prima mengaku bahwa setiap berulang tahun ia memberikan hadiah berupa menulis satu buku untuk mengapresiasi dirinya sendiri. Tahun ini, ia berhasil merilis buku Landasan Budaya Komunikasi: Dasar Teori dan Struktur Makna dalam Budaya Komunikasi. “Spesial untuk Lisan, saya akan memberikan buku ini sebagai hadiah untuk dua penanya yang pertanyaannya menarik,” ucapnya. Dua peserta yang beruntung ialah Ahmad Baihaqi dan Adani.
Lisan episode ini ditutup dengan berfoto bersama melalui tangkapan layar yang diikuti oleh 51 peserta. Melalui topik kesantunan dan strategi berbahasa ini, Narabahasa tak hanya ingin memperkaya pemahaman tentang penggunaan bahasa dalam berbagai konteks, tetapi juga mengajak peserta agar lebih cermat membaca konteks dan dampak dari setiap tuturan.
Penulis: Jovita Dwi Swistika Murti
Penyunting: Rifka Az-zahra
Ivan Lanin Soroti Pentingnya Bahasa dalam Penulisan Kebijakan melalui Akademi Penulisan Bappenas
Ivan Lanin Kembali Uji Ketelitian Peserta Adu Eja dalam Pesta Literasi Indonesia 2026
Kelas Daring Publik: Mengubah Pengalaman yang Membekas Menjadi Cerita yang Berkualitas