Ivan Lanin Soroti Pentingnya Bahasa dalam Penulisan Kebijakan melalui Akademi Penulisan Bappenas
Narabahasa hadir menjadi narasumber dalam Webinar Akademi Penulisan Berbasis Pengetahuan untuk Perencanaan Pembangunan 2026 yang digelar oleh Pusat Pembinaan, Pendidikan, dan Pelatihan Perencana (Pusbindiklatren) Bappenas dengan bekerja sama dengan Indonesian Institute for Public Governance (IIPG). Webinar ini berlangsung pada Selasa, 29 September 2026, pukul 08.30 s.d. 12.30 WIB di kantor Pusbindiklatren Bappenas, Jakarta. Kegiatan yang diselenggarakan secara hibrida ini dihadiri oleh sekitar 30 peserta secara luring dan 1.000 peserta yang menyaksikan melalui Zoom.
Webinar yang dibuka oleh Dr. Wignyo Adiyoso selaku kepala Pusbindiklatren ini menghadirkan empat narasumber lain sesuai bidang masing-masing. Narasumber tersebut, antara lain, Dr. Andrinof Chaniago yang bicara tentang kompetensi perumus kebijakan publik, Prof. Cynthia Afriyani yang membahas pemutakhiran data dan penggunaan akal imitasi (AI), serta Dr. Fahmi Wibawa yang memberikan paparan terkait penerbitan dan diseminasi pengetahuan.
Ivan Lanin mendapat giliran ketiga untuk menyampaikan materinya yang berjudul “Menulis Pengetahuan Kebijakan untuk Publik”. Dalam sesi pemaparan, Ivan menyampaikan bahwa materi ini bermula dari gagasannya tentang kebijakan publik. “Materi yang akan saya sampaikan ini berangkat dari gagasan bahwa pengetahuan kebijakan baru berdampak ketika sampai kepada pembaca,” ucapnya.
Pemaparan diawali dengan topik pertama, yakni “Dari Pengalaman kepada Pembaca” yang ditampilkan dengan peta konsep. Ivan menyampaikan bahwa caranya membentuk konsep ini didasari oleh pengalamannya sebagai sarjana Teknik Kimia. “Pada dasarnya, pengetahuan terbentuk dari kumpulan pengalaman. Kemudian, dari pengetahuan tersebut muncul masalah sehingga argumen berperan dan akhirnya sampai pada pemahaman pembaca,” jelas Ivan.
Sebelum membahas teknis menulis kebijakan, Ivan menjelaskan hubungan antara konteks yang baik dan kaidah yang benar agar tujuan komunikasi dapat tersampaikan dengan jelas. “Bahasa yang benar ditentukan oleh kaidah, sementara bahasa yang baik tergantung pada kesesuaian konteks. Untuk itu, nilai penting dalam menulis kebijakan justru bukan menyoal penerapan kaidah tata bahasa yang baik dan benar, melainkan pola pikir yang diwujudkan dalam logika berbahasa,” ungkap Ivan.
Selanjutnya, Ivan memberikan cara cepat dan tepat dalam menyusun sebuah argumentasi melalui empat tahap, yakni masalah, bukti, makna, dan rekomendasi. Ivan menjelaskannya lengkap dengan contoh penerapan empat tahap tersebut. “Jangan dibuat rumit. Kita mulai dari yang mudah untuk membuktikan apa yang kita sampaikan benar. Susun empat kalimat—masalahnya apa, buktinya apa, apa maknanya, dan apa rekomendasinya,” ujarnya.
Ivan memperlihatkan perbedaan bahasa birokrasi dan bahasa publik melalui dua versi paragraf tentang koordinasi penanganan kemiskinan dengan susunan kalimat, kejelasan pelaku, dan penggunaan kata kerja yang berbeda. Prinsip penulisannya ia ringkas lewat kiat sederhana, yakni tepat, serasi, dan hemat. “‘Tepat’ menjaga makna, ‘serasi’ menyesuaikan bahasa dengan pembaca, dan ‘hemat’ mengurangi beban yang tidak diperlukan,” jelasnya. Ivan juga menegaskan bahwa hal ini dilatarbelakangi oleh rentang konsentrasi manusia yang mulai menurun. Ivan berpesan bahwa kebijakan yang baik adalah yang mudah dipahami, diingat, dan digunakan oleh pembaca.
Berikutnya, webinar beralih pada sesi diskusi yang menyoroti persoalan dalam menulis kebijakan, mulai dari keberanian aparatur sipil negara (ASN) dalam mengkritik kebijakan, keterbukaan organisasi, hingga tantangan menyajikan bukti dan temuan secara kritis. Hal ini menegaskan bahwa menulis kebijakan bukan sekadar merangkai kalimat, melainkan juga memastikan pengetahuan penting dicatat, dibagikan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sebagai pembuka rangkaian akademi penulisan, webinar ini akan dilanjutkan dengan lokakarya penulisan buku pada Oktober dan November 2026. Rangkaian tersebut diharapkan dapat mengolah pengalaman para perencana pembangunan dan dimanfaatkan oleh lebih banyak orang. Pada akhirnya, bahasa menjadi jembatan agar pengetahuan tidak sekadar dimiliki dan dituliskan, tetapi juga sampai kepada pembaca untuk digunakan.
Penulis: Jovita Dwi Swistika Murti
Penyunting: Rifka Az-zahra
Ivan Lanin Kembali Uji Ketelitian Peserta Adu Eja dalam Pesta Literasi Indonesia 2026
Kelas Daring Publik: Mengubah Pengalaman yang Membekas Menjadi Cerita yang Berkualitas
Lisan Episode Ke-38: Bermain Kata bersama Ambiguitas Makna dalam Bahasa Indonesia