Kinara Episode Ke-64: Mencintai Musik lewat Visual

oleh Narabahasa

Pada Kinara episode ke-64, Narabahasa berkesempatan untuk berdiskusi dengan Arsita Pinandita, seorang akademisi, direktur kreatif, sekaligus penulis buku & Musik Menjadi Visual. Episode ini ditemani oleh Muhammad Rauf sebagai moderator dan Ivan Lanin sebagai pemantik dan dilaksanakan pada Sabtu, 24 Januari 2026, di Spaces X.

Arsita Pinandita, sering disapa Dito, sudah merilis empat buku di sepanjang karier kepenulisannya. & Musik Menjadi Visual menjadi buku terbaru yang dirilis pada Selasa, 13 Januari 2026. Dito juga sering terlibat dalam pembuatan zine sejak 2005 dengan fokus pembahasan tentang dunia musik.

Buku ini berawal dari minat Dito terhadap dunia musik yang tumbuh sejak kecil. Sementara itu, latar belakang sebagai seorang dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) membantu Dito untuk melihat perspektif baru di dunia musik. “Saya memiliki pemahaman tentang desain dan seni rupa, lalu dari kecil saya tumbuh mengenal dunia budaya populer melalui musik. Kedua hal ini melatarbelakangi saya untuk menulis & Musik Menjadi Visual,” kata Dito.

Dito menegaskan bahwa latar belakangnya di dunia DKV justru menjadi tantangan dalam proses menulis karena budaya di bidang tersebut tidak membiasakan praktik menulis. “Sebagai seorang DKV, menulis itu justru sulit karena saya terbiasa membuat visual yang berkomunikasi,” ujarnya.

Ia menjelaskan alasan dari kemampuan menulisnya yang justru tumbuh dari budaya bawah tanah (underground) ketika Dito bertemu dengan zine. “Saya mulai menulis di tahun 2005 dengan media zine. Saat itu, media zine bisa dibilang langka dan saya tertarik untuk menulis tentang lingkungan sekitar dengan media ini,” jelasnya. 

Dito juga menjelaskan proses penulisan & Musik Menjadi Visual yang memakan waktu lebih dari 10 tahun sejak ide awalnya. “Ide & Musik Menjadi Visual itu dari tahun 2012. Saya butuh waktu bertahun-tahun untuk meyakini apa yang saya ingin tulis. Jadi, saya mengumpulkan data dan referensi tanpa tenggat waktu. Setelah merasa cukup, baru saya mulai menulis dengan waktu sekitar 2 sampai 3 minggu,” ungkap Dito.

Sesi diskusi dilanjutkan oleh Muhammad Rauf yang menekankan keunggulan Dito dalam menulis. Menurut Rauf, kemampuan Dito dalam mengaitkan satu hal dengan hal lain adalah modal utama yang jarang dimiliki seorang penulis. “Hal ini menunjukkan kalau Mas Dito memang hidup dari satu kesenian ke kesenian lainnya sehingga mampu menulis sebagai seorang pengamat,” ungkap Rauf.

Untuk menutup Kinara kali ini, Dito menjelaskan ada banyak hal yang ingin ia bahas tentang musik dan visual. “Saya sudah membuat lima seri untuk menjelaskan hubungan antara musik dan visual. Tiga seri lainnya masih memiliki hubungan dengan dua karya saya yang terbaru,” jelasnya.

Narabahasa berharap diskusi ini dapat membuka wawasan Kerabat Nara mengenai hubungan antara musik dan visual, sekaligus mendorong lahirnya karya tulis yang beperspektif lintas disiplin. 

Penulis: Tuah Ananda Setiawan

Penyunting: Rifka Az-zahra

Anda mungkin tertarik membaca

Tinggalkan Komentar