Dua Dekade Duta Bahasa Nasional 2026: Membumikan Bahasa di Tengah Keberagaman

oleh Narabahasa

Merayakan 20 dekade penyelenggaraan, Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026 telah tiba pada puncaknya melalui malam penganugerahan yang digelar di Graha Utama, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Jakarta Pusat. Puncak penganugerahan ini berlangsung pada Jumat, 18 September 2026, pukul 14.00 s.d. 17.00 WIB yang diikuti oleh sebanyak 31 pasang finalis dari berbagai provinsi yang telah mengikuti rangkaian seleksi dan karantina sebelum akhirnya sepuluh pasangan terbaik diumumkan. Acara dibuka dengan penampilan koreografi para finalis dari Sabang sampai Merauke lengkap dengan busana adat dari daerah asal masing-masing. 

Rangkaian karantina juga melibatkan Narabahasa dalam pembekalan finalis pada Rabu, 12 Agustus 2026 dengan materi yang bertajuk “Membangun Daya Tarik Bahasa dan Sastra melalui Konten Media Sosial” yang disampaikan oleh Ivan Lanin secara daring. Keterlibatan Narabahasa berlanjut ketika Ivan dipercaya menjadi juri video konten kebahasaan dan kesastraan sebagai salah satu rangkaian penilaian para finalis.

Acara dilanjutkan dengan penyampaian laporan kegiatan dari Hidayat Widiyanto selaku Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Pengembangan Bahasa dan Sastra. Ia mengutarakan bahwa Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026 merupakan program prioritas Badan Bahasa dalam memperkuat kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Ia juga menghubungkan tujuan dari kompetisi ini dengan momentum Sumpah Pemuda 1928 yang memosisikan bahasa sebagai jiwa dan identitas bangsa.

Gagasan yang beririsan juga disampaikan oleh Gempa Nugraha, Ketua Panitia Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026, yang menuturkan bahwa pemilihan tahun ini memiliki makna khusus dalam merayakan 20 tahun perjalanan Duta Bahasa. “Selain mendukung program Badan Bahasa dalam pemartabatan bahasa Indonesia, pelindungan bahasa daerah, penginternasionalan bahasa Indonesia, hingga peningkatan literasi di berbagai provinsi, tahun ini makin spesial karena Ikatan Duta Bahasa Nasional pada 2026 resmi menjadi organisasi berbadan hukum untuk memperkuat peran sebagai organisasi kepemudaan,” jelasnya. 

Pelaksanaan tahun ini bertemakan Matribahasa Matribumi yang didasari oleh fakta bahwa penguatan bahasa Indonesia dapat efektif dengan adanya peran penting dari bahasa daerah. Gempa juga menambahkan bahwa hadirnya penilaian Tuturloka menjadi sebuah inovasi yang membedakan antara penyelenggaraan tahun ini dengan tahun sebelumnya.

Hadirnya penilaian video konten kebahasaan juga turut memberikan pengalaman yang berkelanjutan bagi para finalis, salah satunya Isak Samuel Tunya dan Melani Tebuot yang menjadi perwakilan dari Papua. “Di Papua terdapat sekitar 428 bahasa daerah yang tersebar. Namun, [bahasa-bahasa tersebut] sudah mulai punah dan bahkan ada yang sudah punah sehingga lewat konten digital ini kami berusaha mengedukasi generasi muda untuk menghilangkan stigma kuno terhadap bahasa daerah dan mulai kembali menguatkan penggunaan bahasa daerah,” tutur Isak dan Melani. 

Perwakilan DKI Jakarta Dania Zahra dan Adventhius Immanuel dinobatkan sebagai Duta Bahasa Nasional 2026 Terbaik 1, disusul oleh perwakilan Jawa Timur Najwan Eka Murti dan Siti Syahira sebagai Terbaik 2 pada malam penganugerahan. Delapan pasang finalis lainnya yang masuk ke dalam jajaran 10 terbaik, yakni Bali, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kalimantan Barat, Sumatra Barat, Lampung, Jambi, dan Sulawesi Selatan dan Barat. 

Setelah berhasil memperoleh gelar Duta Bahasa Nasional Terbaik 1, perwakilan DKI Jakarta membagikan momen berkesan selama karantina yang justru hadir dari perjumpaan dengan finalis dari berbagai daerah. “Bagi kami, lima hari karantina mampu membawa kami melihat betapa beragamnya Indonesia. Kami datang dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi berbekal keresahan dan semangat yang sama untuk menjaga bahasa Indonesia,” ungkap Dania. 

Pada sesi wawancara yang sama, Duta Bahasa Nasional Terbaik 1 juga menyampaikan rencananya dalam mengembangkan jejaring lebih luas melalui berbagai program kolaborasi. “Gagasan yang kami usung berupa RASA, yakni Ruang Bahasa dan Budaya Nusantara yang akan memasuki pelaksanaan keempat pada 16 Oktober 2026 bersama Kedutaan Besar Hungaria. Program ini kami tujukan untuk memperkenalkan bahasa Indonesia melalui gastronomi agar mampu masuk ke ruang-ruang kehidupan masyarakat. Selanjutnya, kami akan berusaha untuk memperluas jangkauan program ini dengan berkolaborasi bersama duta bahasa dari berbagai daerah dan komunitas literasi agar mendapatkan edukasi yang nyata dan rata,” ujar mereka. 

Berbeda dengan Jawa Timur, Duta Bahasa Nasional Terbaik II ini justru akan membawa krida Monalisa, yakni Pemodernan Sastra Kuno Lontar Sri Tanjung yang berasal dari Jawa Timur ke ruang digital. “Monalisa memang berawal dari Jawa Timur dan selama ini sudah dilaksanakan di sekolah dasar di Banyuwangi secara luring melalui pertunjukan wayang beber dan buku saku dwibahasa Jawa dialek Using dan Indonesia. Kidung tersebut akan kami kembangkan menjadi video pendek, cuplikan mendalang wayang, dan cerita bergambar pada platform digital. Harapannya, program ini dapat menjadi gerakan dalam merangkul sastra kuno dan bahasa daerah dari Sabang sampai Merauke,” jelas mereka. 

Akhirnya, dua dekade perjalanan program Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026 mampu memperlihatkan berbagai cara dan strategi generasi muda dalam meningkatkan muruah bahasa, khususnya bahasa Indonesia, pada era yang menuntut penyesuaian yang cepat. Melalui gelaran Duta Bahasa Nasional ini, tidak hanya bahasa daerah saja yang diperjuangkan, tetapi juga bahasa asing yang patut dikuasai hingga sastra kuno yang perlu dihidupkan kembali melalui media digital agar dapat terus dirawat, dikembangkan, dan dibagikan kepada masyarakat. 

 

Penulis: Jovita Dwi Swistika Murti

Penyunting: Rifka Az-zahra

Anda mungkin tertarik membaca

Tinggalkan Komentar