Siapa yang tidak mengenal Eka Kurniawan? Ia adalah penulis kondang yang buku-bukunya laris di pasaran dan memiliki kekhasan dalam tulisannya. Salah satu novelnya yang mendunia adalah Cantik Itu Luka yang diterbitkan pada 2002. Pada 19 Januari 2025, Eka Kurniawan hadir dalam Kinara (Kicauan Narabahasa) di platform Space X Narabahasa. Kinara pada episode kali ini secara eksklusif membahas bagaimana proses menulis buku terbaru Mas Eka, Anjing Mengeong Kucing Menggonggong, dengan dimoderatori oleh Uda Ivan Lanin.
Mas Eka bercerita bahwa rilisnya Anjing Mengeong Kucing Menggonggong ini berjarak delapan tahun dari terbitnya novel O. Hal ini justru membuat Uda Ivan penasaran mengenai berapa sebenarnya waktu ideal yang diperlukan penulis untuk merilis buku barunya. Mas Eka menjawab, jarak ideal seorang penulis dalam menerbitkan bukunya adalah dua tahun. Faktanya, proses penulisan dan penyuntingan Anjing Mengeong Kucing Menggonggong hanya menghabiskan waktu tujuh bulan dari delapan tahun vakumnya dalam menerbitkan buku.
Mas Eka menuturkan bahwa hal yang penting dalam menulis adalah mempertahankan rasa penasaran pembaca. Penulis, menurutnya, harus memiliki kemampuan untuk membuat ide menjadi “agak nakal”. Salah satu cara Mas Eka dalam mengembangkan ide nakalnya adalah berpikir dengan metode what if.
Mas Eka menceritakan inspirasinya menulis salah satu peristiwa dalam novel Cantik Itu Luka, yang menceritakan Dewi Ayu yang berharap anaknya lahir dalam keadaan buruk rupa. Ide ini lahir dari obrolannya bersama sang ibu setelah sang ibu pulang dari acara syukuran kehamilan tetangganya dan mengharapkan anaknya nanti menjadi anak yang tampan. Obrolan dengan sang ibu itulah yang memantiknya memikirkan ide dengan metode what if: Bagaimana jika ada seorang ibu yang berharap anaknya lahir buruk rupa?
Obrolan makin mendalam ketika membahas proses kreatif Mas Eka dalam menulis, mulai dari mendapatkan ide hingga menentukan tokoh dan plot cerita. Ia menuturkan bahwa menulis novel adalah caranya untuk menyampaikan gagasan dengan tetap memberikan ruang dan jarak sehingga ia bisa tetap rendah hati terhadap opini-opini yang berbeda.
Mas Eka membayangkan novel sebagai suara polifonik, yang memiliki banyak sudut pandang dan karakter yang bersatu dalam satu ide sehingga memungkinkan adanya lebih banyak ruang untuk ide yang berbeda dari titik pijak penulis. Mas Eka menyebutkan bahwa novel memiliki sifat subjektif jamak dan suara-suara yang tidak tunggal.
Obrolan yang seru ini dapat Kerabat Nara dengarkan di Space X Narabahasa. Jangan lupa untuk mendengarkan Kinara episode berikutnya, ya.
Penulis: Nunung Asmawati
Penyunting: Rifka Az-zahra

1 komentar
Sangat seru jika lebih banyak artikel tentang kepenulisan sastra di samping artikel kebahasaan.