Kupas Strategi Menyusun Artikel Ilmiah Populer melalui KDP Narabahasa

oleh Narabahasa

Kelas Daring Publik (KDP) kembali diselenggarakan oleh Narabahasa dengan menggandeng Innezdhe Ayang Marhaeni sebagai pengajar pada Sabtu, 8 Agustus 2026, pukul 09.00 s.d. 11.00 WIB secara daring yang dihadiri oleh 14 peserta. KDP ini bertajuk “Menulis Artikel Ilmiah Populer” yang berfokus pada tiga topik utama, yakni sistematika isi karya ilmiah, tahapan observasi ide, dan klasifikasi jenis karya ilmiah. Peserta yang mendaftar sekaligus mengikuti kelas ini dari awal hingga akhir mendapatkan rekaman kelas, salindia materi, dan juga sertifikat digital. 

Kelas dibuka oleh Nazwa Aulia sebagai moderator yang menyambut peserta dengan semangat melalui pantun. Kelas dimulai dengan pertanyaan pemantik yang diajukan oleh moderator kepada pengajar tentang alasan keterampilan menulis artikel ilmiah perlu dimiliki oleh setiap orang. Berangkat dari pertanyaan itu, Innez menjelaskan bahwa keterampilan menulis karya tulis apa pun penting untuk dikembangkan, tidak hanya berhenti pada artikel ilmiah. Selain itu, peserta juga diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapan mereka. Jawaban mereka bervariasi. Ada yang menjawab karena dituntut oleh tugas pekerjaan dan ingin mengasah keterampilan menulis sebagai hobi. Ada pula yang mengikuti kelas ini karena ingin belajar mulai menulis produktif. Meskipun hanya dilaksanakan secara daring, peserta terlihat antusias. 

Selanjutnya, kelas beralih pada agenda utama, yaitu pemaparan materi oleh Innez. Materi yang disajikan cukup lengkap, tidak hanya meliputi kiat-kiat menulis, tetapi juga perbedaan pola yang bisa diterapkan ketika menyusun artikel ilmiah dengan bentuk karya tulis lainnya. Innez menjelaskan bahwa pola yang membedakan keduanya terletak pada aspek penjabaran riset daring, literatur, dan studi kasus yang tidak ditemukan di karya tulis lainnya. Selain itu, Innez juga memberikan tahapan awal dalam pengumpulan bahan dengan membaginya menjadi empat proses, yaitu melakukan survei, wawancara, diskusi kelompok terpumpun, dan observasi yang bisa divariasikan jika semuanya bisa dilakukan.

Setelah menjelaskan proses pengumpulan bahan, Innez juga menunjukkan perbedaan dari sistematika isi yang cukup kontras antara karya ilmiah populer dan karya ilmiah murni. Karya ilmiah murni cenderung lebih kompleks daripada karya ilmiah populer yang sistematikanya hanya tersusun oleh judul, pembuka, tubuh utama, dan penutup.

Selama kelas berlangsung, peserta tidak hanya mendapatkan teori tata cara penulisan karya ilmiah populer saja, tetapi juga trik agar tulisan tidak terkubur menjadi draf. Innez membagikan pengalamannya sebagai penulis melalui konsep keresahan. “Bagi saya, menulis harus membutuhkan keresahan. Untuk itu, menulislah selagi resah itu masih terasa dan berhenti ketika rasa resah sudah hilang. Sebab, jika diteruskan, [kamu] justru akan menciptakan tulisan yang topiknya terlalu banyak sehingga fokusnya akan buyar,” jelas Innez. 

Kelas ditutup dengan sesi tanya jawab antarpeserta dengan pengajar yang dipandu oleh moderator. Lewat pelaksanaan kelas ini, Narabahasa berkomitmen untuk meningkatkan pengetahuan sekaligus keterampilan masyarakat dalam memproduksi artikel ilmiah populer agar dapat menarik banyak pembaca pada era digital saat ini. Pada akhir kelas, Innez juga menyampaikan bahwa hadirnya kelas ini setidaknya dapat menjawab keraguan dari masyarakat yang masih belum cukup percaya diri dalam mengasah kemampuan menulis. 

 

Penulis : Jovita Dwi Swistika Murti

Penyunting : Rifka Az-zahra

Anda mungkin tertarik membaca

Tinggalkan Komentar