Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat (Dispen TNI AD) mengundang Narabahasa untuk ikut serta dalam diskusi kelompok terpumpun (DKT) melalui kegiatan Narasumber Luring Narabahasa (NLN) pada Rabu, 29 Juli 2026, pukul 09.00 s.d. 11.00 WIB di Novotel Jakarta Mangga Dua Square.
Agenda dalam kegiatan ini berupa sesi diskusi dan pelatihan bertajuk “Dari Laporan Institusional ke Narasi Strategis” dengan menggandeng Ivan Lanin sebagai pembicara pertama untuk memberikan penguatan kemampuan menulis bagi jajaran Dispen TNI AD. Diskusi ini bertujuan untuk melatih kemampuan menulis bagi tentara yang tidak terbiasa dalam mengubah laporan formal menjadi narasi ringkas yang mudah dipahami sehingga informasi yang disampaikan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada TNI AD.
Sesi diskusi diawali dengan paparan tugas Dispen TNI AD dalam membangun kepercayaan masyarakat melalui penyampaian program dengan narasi yang baik dan tidak terkesan seperti sebuah laporan. Berangkat dari diskusi tersebut, baru terungkap bahwa tentara yang hadir sebagai peserta tidak terbiasa menulis. “Lebih baik pergi ke medan perang atau melakukan push up sebanyak 100 kali daripada harus menulis,” ungkap salah satu peserta. Diskusi berlangsung menyenangkan. Para peserta terlihat antusias untuk bertanya dengan gaya khas, seperti “Siap!” dan “Mohon izin”.
Ivan Lanin menyoroti contoh naskah dari para tentara yang terlalu panjang, yaitu mencapai seribu kata, sehingga kurang efektif bagi pembaca dengan daya konsentrasi yang makin pendek. Selain itu, beberapa tulisan memiliki terlalu banyak fokus sehingga tujuan utamanya hilang karena terlalu banyak prestasi yang dimasukkan dalam satu naskah. Dari sana, Ivan Lanin mendorong peserta untuk memaksimalkan naskah pada kisaran 300–600 kata dan memfokuskan tulisan hanya pada satu tujuan, satu sudut pandang, dan satu perubahan sikap pembaca. Ini agar pesan yang ingin disampaikan lebih berdampak dan mudah pahami.
Lewat diskusi ini, Ivan Lanin juga menambahkan tentang strategi penceritaan data dan pemanfaatan akal imitasi (AI) secara bijak. Ia menjelaskan bahwa data yang tersaji tidak cukup hanya dengan bentuk angka saja, tetapi perlu diolah menjadi narasi efektif sehingga mampu membangun keterhubungan makna dengan pembaca. Kemudian, peserta disarankan untuk memanfaatkan AI secara sehat, seperti untuk mencari fokus penulisan, sudut pandang tulisan, memeriksa konsistensi naskah, dan merapikan data. Melalui topik ini, Ivan juga mengingatkan peserta agar tidak membagikan data operasional secara utuh kepada AI untuk menjaga kerahasiaan institusi.
Pada sesi diskusi terakhir, Ivan memberikan rumus sederhana sekaligus contoh penerapan dalam membuat cerita sederhana, yaitu melalui rumus MRM (momen, reaksi, makna). Rumus tersebut diterapkan dengan meminta peserta untuk menulis cerita sederhana. Kemudian, panitia akan memilih tiga karya terbaik dan memberikan hadiah khusus sebagai bentuk apresiasi atas antusiasme para tentara dalam mengasah keterampilan menulis narasi strategis.
Penulis: Jovita Dwi Swistika Murti
Penyunting: Rifka Az-zahra
