Tahun ini, Narabahasa kembali bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui program pelatihan Griyaan Luring Narabahasa (GLN) pada Selasa, 11 Agustus 2026 di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan. Tahun sebelumnya, program ini juga pernah dilaksanakan oleh Narabahasa bersama OJK dalam mendukung pengembangan keterampilan menulis, khususnya naskah bisnis bagi para calon pegawai tata usaha dan staf. Berbeda dari tahun sebelumnya, GLN tahun ini berfokus pada topik “Keterampilan Penulisan Bisnis” yang ditujukan kepada calon pegawai asisten manajer dan staf profesional.
Program GLN tahun ini dibagi menjadi dua gelombang. Gelombang pertama diperuntukkan bagi peserta PCAM (Pendidikan Calon Asisten Manajer) dan dilaksanakan pada pukul 07.30 s.d. 11.45 WIB. Gelombang kedua dikhususkan bagi peserta MLE (Multi Level Entry) pada pukul 13.00 s.d. 17.30 WIB. Setiap gelombang dibagi menjadi dua kelas yang berbeda. Kelas A dipandu oleh Innezdhe Ayang Marhaeni, sedangkan kelas B dipandu oleh Dita Sabariah sebagai pengajar.
Pada gelombang pertama, kelas PCAM dibuka oleh moderator setiap kelas, yaitu Nazwa Aulia untuk kelas A dan kelas B oleh Jovita Dwi. Tiap kelas diikuti oleh 50 peserta calon asisten manajer. Sebelum sesi pemaparan materi dimulai, peserta diminta untuk mengisi tes awal yang terdiri atas 10 pertanyaan terkait keterampilan menulis. Hasil dari tes awal menunjukkan capaian yang cukup memuaskan dengan mayoritas peserta mendapatkan angka 8 dari 10 poin.
Sementara itu, gelombang kedua untuk peserta MLE dilaksanakan setelah kelas PCAM selesai. Dua kelas MLE dihadiri oleh 50 peserta dan 49 peserta calon staf profesional. Berbeda dari hasil tes awal PCAM sebelumnya, hasil tes awal mayoritas peserta MLE hanya memperoleh poin 6 dari 10 pertanyaan.
Dalam program ini, Dita Sabariah dan Innezdhe Ayang secara berdampingan diberikan waktu 3 jam 30 menit untuk memaparkan materi yang dibagi menjadi tiga topik utama, seperti keterampilan bahasa, karakteristik dan penyusunan naskah bisnis, dan bahasa naskah bisnis. Selama sesi pemaparan, peserta juga diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan sesuai dengan konteks topik yang sedang dibahas. Sepanjang kelas, baik di kelas PCAM ataupun MLE, peserta sangat aktif bertanya. “Saya selalu senang ketika diundang untuk mengajar di OJK karena pesertanya selalu antusias dan aktif bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang kritis,” ujar Dita.
Setelah seluruh rangkaian materi dipaparkan, peserta diminta kembali mengerjakan tes akhir dengan jumlah pertanyaan yang sama seperti tes awal. Hasil dari tes ini bertujuan untuk mengukur perkembangan keterampilan menulis peserta setelah mengikuti rangkaian kelas. Secara umum, hasil tes akhir menunjukkan peningkatan cukup signifikan dari kemampuan menulis naskah bisnis dalam konteks profesional dengan mayoritas peserta PCAM dan MLE memperoleh angka 10 dari 10 poin.
Selain mengikuti tes akhir, seluruh peserta juga diminta mengisi formulir umpan balik mengenai pelaksanaan GLN. Umpan balik yang didapatkan dari peserta ini akan digunakan sebagai bahan penilaian terhadap kualitas materi, metode pengajaran, dan pengelolaan kelas. Umpan balik ini juga digunakan oleh Narabahasa sebagai acuan pertimbangan evaluasi untuk penyelenggaraan GLN selanjutnya.
Melalui penyelenggaraan GLN ini, OJK dan Narabaasa berharap para calon pegawai tidak hanya menerapkan kemampuan menulis yang sesuai dengan tata bahasa, tetapi juga menggunakan standar komunikasi bisnis dalam menghasilkan naskah bisnis yang efektif bagi kelembagaan.
Penulis: Jovita Dwi Swistika Murti
Penyunting: Rifka Az-zahra
