BBW Episode Ke-3: Menjembatani Data dan Pembaca Laporan Tahunan

oleh Narabahasa

Pada Bahas Bahasa bersama Warganet (BBW) episode ke-3, Narabahasa berkesempatan untuk berdiskusi dengan Ivan Lanin, dr. Ratna Hermawati dari Komite Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) RSUD dr. H. Slamet Martodirdjo, dan Hetty Hartati Novita dari Program Penerjemahan dan Penjurubahasaan Lembaga Bahasa Internasional (LBI) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI). BBW kali ini mengusung topik “Menulis Laporan Tahunan dengan Bahasa yang Ramah Pembaca”. Episode ini ditemani oleh Dita Sabariah sebagai moderator dan dilaksanakan pada Kamis, 28 Januari 2026 secara daring. Acara ini juga disiarkan secara langsung di kanal YouTube Narabahasa.

Dita Sabariah membuka diskusi dengan bertanya mengenai pengalaman Ivan Lanin dalam menulis maupun membaca laporan tahunan. Menurut Ivan, salah satu permasalahan yang sering ia temui pada laporan tahunan berasal dari pengerjaannya yang bersifat pengulangan. “Ketika mengerjakan laporan tahunan menjadi sebuah rutinitas, sering kali seseorang bingung tentang cara meningkatkan kualitasnya,” jelasnya.

Ivan melanjutkan penjelasan dengan membedakan cara pandang seorang penulis laporan dengan pembaca laporan. Menurutnya, penulis memiliki perspektif bahwa kelengkapan data dan bahasa yang teknis adalah hal yang penting. Sementara itu, pembaca cenderung mengharapkan laporan yang ringkas dan langsung. “Kedua perbedaan inilah yang perlu kita jembatani,” ungkap Ivan.

Hetty Hartati Novita menerangkan caranya menulis laporan tahunan. Ia selalu menyesuaikan dengan target pembaca untuk menentukan format dari informasi yang akan dilaporkan. “Di LBI ada kursus yang memiliki tingkatan, dan templat format laporan akan disesuaikan dengan tingkatan kursus para peserta,” jelasnya.

Selanjutnya, dr. Ratna Hermawati mengungkapkan pengalamannya di rumah sakit dalam mengolah data untuk laporan tahunan. Menurutnya, teknologi yang digunakan oleh rumah sakit cukup membantu untuk mengolah data sehingga memudahkan proses interpretasinya. “E-medical record sudah wajib digunakan di rumah sakit. Teknologi ini dapat membantu penarikan data berupa diagram,” ujar Ratna. 

Diskusi berjalan interaktif. Ketiga narasumber merespons tanggapan Kerabat Nara seiring dengan berjalannya kegiatan. Perbedaan latar belakang dari para narasumber juga menambah perspektif dalam topik yang diusung kali ini. 

Pada akhir acara ini, moderator merangkum hasil diskusi yang telah dijalankan. “Laporan tahunan bukan sekadar dokumen formal, melainkan sarana komunikasi untuk membangun kepercayaan dan relasi baik lainnya. Bahasa sebagai alat dari laporan tahunan memiliki fungsi yang penting, yaitu menjembatani data-data dengan masyarakat umum agar informasi dapat dipahami,” ujar Dita.

Melalui diskusi ini, Narabahasa berharap makin banyak Kerabat Nara yang menyadari bahwa laporan tahunan dapat disusun secara informatif sekaligus ramah pembaca tanpa mengorbankan akurasi data. Laporan tahunan diharapkan mampu membangun kepercayaan, memperkuat transparansi, serta menciptakan komunikasi yang lebih inklusif dan bermakna bagi seluruh pemangku kepentingan.

Penulis: Tuah Ananda Setiawan

Penyunting: Rifka Az-zahra

Anda mungkin tertarik membaca

1 komentar

Tinggalkan Komentar