Kinara Episode Ke-66: Becermin pada Proses Kreatif Berto Tukan

oleh Narabahasa

Narabahasa kembali melaksanakan Kicauan Narabahasa (Kinara) pada Sabtu, 28 Februari 2026. Pada episode ke-66 ini, Narabahasa berdiskusi dengan Berto Tukan, penulis buku Bercermin Pada Yang Sudah. Episode ini dipandu oleh Muhammad Rauf sebagai moderator dan dilaksanakan pada pukul 16.00–17.00 WIB di Spaces X.

Berto Tukan, akrab disapa Berto, merilis buku kumpulan esai bertema seni budaya berjudul Bercermin Pada Yang Sudah pada Juni 2025. Karya ini dihasilkan oleh Berto melalui proses pengamatan terhadap pengalaman pribadi atas fenomena dan peristiwa seni budaya pada periode 2008–2024.

Rauf membuka sesi diskusi dengan memberikan pendapatnya sebagai pembaca tentang buku Bercermin Pada Yang Sudah. Menurutnya, buku ini banyak membahas perihal sastra dan seni rupa yang dikemas dalam bentuk trivia sehingga topik-topik yang berusia lebih dari satu dekade dapat dibaca dengan mudah. 

Selanjutnya, Rauf menanyakan ide awal untuk membukukan esai-esai Berto. Berto menjelaskan bahwa esai-esai tersebut awalnya ditulis tanpa tujuan untuk dibukukan. “Tahun 2023, saya menyadari bahwa banyak karya saya yang mulai hilang. Mulai dari situ, saya terpikirkan untuk mengarsipkan tulisan-tulisan saya,” ujar Berto.

Berto mengungkapkan bahwa proses pembukuan terjadi setelah ia melakukan pembacaan ulang. Ia menyadari bahwa banyak tulisannya yang membahas tentang sastra dan seni rupa. Oleh sebab itu, dua topik tersebut menjadi pembahasan utama pada buku Bercermin Pada Yang Sudah. Lalu, butuh waktu hingga dua tahun dari ide awal pengarsipan hingga buku dirilis.

Kemudian, Berto menjelaskan caranya menulis sebuah esai. “Saya mengawali penulisan dari alur pemikiran. Semua tulisan itu saya awali dengan gagasan tentang apa yang ingin saya sampaikan. Lalu, media yang digunakan serta tujuan penulisan masuk sebagai pertimbangan dari panjang tulisannya. Beberapa tulisan ada yang awalnya difungsikan untuk media massa, pemandu diskusi, dan lainnya. Fungsi tersebutlah yang kemudian membatasi panjang tulisan saya,” ujarnya. 

Terakhir, Rauf bertanya perihal produktivitas Berto dalam menulis esai. Berto menjawab bahwa ia tidak memiliki aturan dan batasan periodik untuk menulis. Aturan untuk menjadi disiplin justru diterapkan Berto bukan untuk menulis, melainkan untuk membaca. “Sekarang saya menerapkan aturan untuk membaca setiap hari. Setidaknya saya menyempatkan pada pagi dan malam hari. Jadi, menulis belum saya atur sebagaimana saya mengatur kedisiplinan untuk membaca,” jelasnya.

Narabahasa berharap diskusi ini dapat meningkatkan pengetahuan Kerabat Nara tentang proses menulis, terutama penulisan esai. Melalui diskusi ini, Narabahasa juga ingin mendorong Kerabat Nara untuk meningkatkan kedisiplinan membaca dan menulis sebagai bentuk pewadahan gagasan pribadi maupun pengarsipan pengalaman. 

 

Penulis: Tuah Ananda Setiawan

Penyunting: Rifka Az-zahra

Anda mungkin tertarik membaca

Tinggalkan Komentar