Narabahasa kembali melaksanakan Selisik Kebahasaan (Lisan) yang kini telah memasuki episode ke-32. Kali ini, Lisan mengundang Dr. Yuliana Setyaningsih, M.Pd., dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari Universitas Sanata Dharma, untuk memaparkan topik berjudul “Fonologi: Bunyi Bahasa dan Identitas Penutur”. Acara ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom dan dipandu oleh Zhafira selaku moderator.
Pada kesempatan ini, Lisan dilaksanakan pada Rabu, 25 Februari 2026, pukul 16.00–17.00 WIB. Meskipun dilaksanakan saat waktu berpuasa, para peserta tetap menunjukkan antusiasme yang tinggi selama acara berlangsung. Hal ini terlihat dari banyaknya penanya pada sesi tanya jawab di akhir acara.
Yuliana memulai pemaparan dengan membagi topik utama menjadi tiga, yaitu hakikat fonologi, identitas penutur, dan bunyi bahasa penentu identitas penutur. Yuliana tidak lupa memaparkan definisi fonologi dan menyinggung fokus pembahasan dari ilmu fonologi. Menurutnya, fonologi mempelajari bahasa secara sistematis dan berpola, mulai dari tata bunyi hingga tata wacana.
Selanjutnya, Yuliana juga mengungkapkan dua aspek utama dalam ilmu fonologi. “Yang pertama, fonetik adalah bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Fonetik dibagi menjadi tiga, yaitu artikulatoris, akustik, dan auditoris. Selain itu, fonologi juga membahas fonemik, yaitu bunyi yang mampu membedakan makna,” jelasnya.
Lalu, Yuliana juga membahas secara detail konsep-konsep dalam ilmu fonologi, seperti alofon, fonem, dan fon. Ia juga membahas klasifikasi bunyi berdasarkan ada atau tidaknya hambatan, seperti vokal, diftong, dan konsonan. Penjelasan tersebut didukung oleh contoh-contoh serta tabel yang dapat meningkatkan pemahaman peserta dengan lebih baik.
Selanjutnya, pemaparan berlanjut dengan salindia mengenai bahasa-bahasa Nusantara. Menurut Yuliana, bahasa Nusantara terbagi dari banyaknya bahasa-bahasa daerah. “Data terakhir yang saya peroleh menyatakan bahwa Indonesia memiliki 718 bahasa daerah dengan penyumbang terbanyak berasal dari Papua,” jelasnya.
Yuliana menjelaskan bahwa variasi bahasa dapat dikategorikan dengan beberapa aspek, misalnya cermin penggunaannya, penggunanya, statusnya, dan lain-lain. “Meskipun bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan, tugas kita adalah melestarikan bahasa-bahasa daerah supaya tidak punah begitu saja,” tegasnya.
Mengenai bunyi bahasa sebagai penentu identitas penutur, Yuliana menjelaskan bahwa perbedaan dalam pengucapan dapat terjadi karena beberapa alasan, salah satunya perbedaan sistem bunyi pada bahasa daerah atau bahasa pertama tiap orang. “Penutur akan mengucapkan bunyi yang paling dekat dengan bunyi-bunyi dari sistem bahasa mereka,” ungkapnya.
Selanjutnya, pada sesi tanya jawab, salah satu peserta bertanya mengenai objek kajian fonologi. “Apakah fonologi hanya membahas tataran bahasa lisan atau dapat masuk tataran bahasa tertulis?” tanya peserta tersebut. Menurut Yuliana, fonologi memang terbatas pada bunyi bahasa saja, tetapi jika ingin mengaitkan ranah lisan dan tertulis, kita dapat menggunakan teori yang lebih luas lagi. Sesi tanya jawab pun dilanjutkan dengan beberapa pertanyaan lain dari para peserta yang langsung dijawab oleh Yuliana. Sesi tersebut juga menjadi bagian terakhir dari kegiatan Lisan ke-32.
Melalui program ini, Narabahasa berharap para peserta makin memahami pentingnya fonologi dalam kehidupan berbahasa sehari-hari. Narabahasa juga berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan kepedulian terhadap pelestarian bahasa daerah dan mendorong diskusi-diskusi kebahasaan yang lebih kritis, reflektif, serta berkelanjutan di ruang publik.
Penulis: Tuah Ananda Setiawan
Penyunting: Rifka Az-zahra
