Harimurti Kridalaksana merupakan linguis ternama asal Indonesia. Selama delapan puluh tahun hidupnya, beliau telah menerbitkan banyak buku mengenai kebahasaan. Beberapa karya Harimurti adalah Kamus Sinonim Bahasa Indonesia (1974), Beberapa Masalah Linguistik Indonesia (1978), Kamus Linguistik (1982), Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia (1986), Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia (1989), serta Struktur, Kategori, dan Fungsi dalam Teori Sintaksis (2002).

Pandangan beliau yang menurut saya menarik untuk disorot ialah soal kelahiran bahasa Indonesia. Selama ini, kita telah mengetahui bahwa Kongres Pemuda II, pada 27—28 Oktober 1928 diperingati sebagai hari Sumpah Pemuda. Pada saat itu, semangat untuk berbahasa Indonesia tercetuskan. Harimurti berkata lain. Dalam bukunya, Masa-masa Awal Bahasa Indonesia (2018), Harimurti menuliskan bahwa kelahiran bahasa Indonesia jatuh pada 2 Mei 1926, yakni pada saat berlangsungnya Kongres Pemuda I. Saat itu, M. Tabrani berpendapat bahwa bahasa bangsa Indonesia adalah bahasa Indonesia, bukan bahasa Melayu

Pada kongres pertama tersebut, Mohammad Yamin yang mengajukan ide bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan berdebat dengan Tabrani. Yamin mengusulkan kalimat “Kami poetra dan poetri Indonesia menjoenjoeng bahasa persatoean Bahasa Melajoe”. Djamaloedin Adinegoro mendukung konsep Yamin, sedangkan Sanusi Pane setuju dengan pendapat Tabrani. Rapat berujung buntu dan mereka sepakat untuk mengambil putusan akhir pada Kongres Pemuda II dengan catatan “Bahasa Melayu” diubah menjadi “Bahasa Indonesia”. 

Harimurti berpendapat bahwa 2 Mei 1926 merupakan hari kelahiran bahasa Indonesia. Sementara itu, 28 Oktober 1928 merupakan hari penerimaan dan pengakuan bahasa Indonesia sebagai bahasa bangsa Indonesia.

Perlu diketahui pula, Harimurti mendukung penamaan “Bahasa Indonesia” (dengan B) yang diajukan oleh Tabrani. Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional, sedangkan bahasa Indonesia adalah salah satu rumpun dalam bahasa Austronesia. Menurut Harimurti, bahasa bukan hanya sistem ujaran yang membentuk makna, melainkan juga pencerminan sikap, persepsi, dan kesepakatan penutur. 

Meskipun menjabat sebagai rektor dan berkecimpung dalam birokrasi kampus, Bapak Harimurti masih menyempatkan diri untuk melakukan penelitian linguistik dan kebahasaan. Dalam sebuah wawancara dengan Whiteboard Journal, Harimurti menegaskan bahwa bahasa adalah ranah yang selalu menarik perhatian beliau. Bahasa tidak akan tuntas untuk diteliti dan akan terus berkembang.

“Di kepala saya selalu ada pertanyaan-pertanyaan tentang bahasa. Pertanyaan itu belum terjawab.”

#Harimurti #Kridalaksana #TokohBahasa

 

Rujukan:

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin