Saya kira semua pegiat bahasa dan sastra Indonesia harus mengetahui nama H.B. Jassin. Tentu hal ini memiliki alasan yang kuat. Beliau menulis, menerjemahkan, dan mengkritik karya sastra dengan begitu getol. Salah satu terjemahannya yang dinilai penting adalah Max Havelaar (1972). Kemudian, sejumlah respons Jassin terhadap perkembangan bahasa dan sastra Indonesia terdokumentasi dalam empat jilid Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai (1954–1985), Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45 (1956), Amir Hamzah Raja Penyair Pudjangga Baru (1962), Pudjangga Baru Prosa dan Puisi (1963), Angkatan 66: Prosa dan Puisi, serta masih banyak lagi.

Berkat keaktifannya dalam menanggapi karya-karya sastra Indonesia, Jassin mendapat julukan Paus Sastra.

Akan tetapi, kinerja Jassin yang menurut saya paling menarik untuk dibicarakan adalah upaya beliau dalam melakukan dokumentasi sastra. Pamusuk Eneste mengatakan bahwa minat Jassin dalam pengarsipan sudah tecermin sejak beliau berusia sepuluh tahun. Buku-buku Jassin sudah tertata dengan rapi saat itu. Mulai 1933, Jassin dengan tekun menghimpun karya sastra, baik yang berupa tulisan tangan pengarangnya maupun kliping dari koran. 

Pada 28 Juni 1976, atas dukungan dari Ajip Rosidi dan tokoh bahasa lainnya, Yayasan Dokumentasi H.B. Jassin terbentuk. Setahun setelahnya, Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin (PDS H.B. Jassin) diresmikan oleh Ali Sadikin. Di sini, kita bisa mendapatkan salinan berbagai macam dokumentasi sastra. Salah seorang pegawai PDS H.B. Jassin pada 2013 mengatakan bahwa pusat dokumentasi tersebut menyimpan 21.300 judul buku fiksi, 17.700 judul buku nonfiksi, 875 naskah drama, 870 biografi pengarang, 742 data rekaman suara, 789 judul skripsi serta disertasi sastra, dan sebagainya.  

Sependengaran saya, PDS H.B. Jassin dulu sempat menjadi tempat nongkrong para sastrawan. Di situ mereka berdiskusi dan berbagi bacaan sambil menyeruput secangkir kopi panas. Kini, situasi tentu sudah berubah jauh. Beberapa arsip yang terdapat di PDS H.B. Jassin sudah dapat diakses secara daring. Pasalnya, Pemprov DKI Jakarta telah menugasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta untuk mendigitalisasi seluruh dokumentasi sastra di PDS H.B. Jassin. Hingga hari ini, proses tersebut masih berlangsung.

Rujukan:

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin