Hasan Alwi merupakan pegiat bahasa Indonesia yang sibuk. Beliau pernah menjadi guru sekolah dasar di Banjaran (1956–1959), guru bahasa Prancis di SMA IPPI Jakarta, SMA Wedha Jakarta, SMA Santa Ursula II Jakarta, SMA Proyek Perintis Sekolah Pembangunan IKIP Jakarta (1965–1969), serta redaksi dan penyiar di Seksi Prancis, Siaran Luar Negeri, RRI Jakarta (1964–1973). Pada tahun-tahun berikutnya, Hasan menduduki posisi penting di Pusat Bahasa sebagai Kepala Bidang Perkamusan dan Peristilahan (1991) dan Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1992–2001). Beliau pun tercatat sebagai peneliti di lembaga tersebut sejak 2001. 

Kesibukan di atas tidak membuat beliau lalai dalam urusan akademis. Setelah lulus dari SMA Taman Siswa, Bogor, pada 1962, Hasan menekuni bahasa Prancis di IKIP Jakarta dan meraih gelar sarjana pada 1971. Kemudian, pada 1990, Hasan Alwi menamatkan program doktor dalam bidang linguistik, di Universitas Indonesia.

Di luar itu, beliau telah menerbitkan sejumlah karya yang mendedah persoalan seputar bahasa Indonesia. Penyusunan Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua, misalnya, berada di bawah pengawasan Hasan Alwi. Selain itu, dia juga merupakan salah satu penyusun Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Ketiga yang dikerjakan bersama Anton Moeliono, Hans Lapoliwa, dan Soenjono Dardjowidjojo. Namun, kajian beliau yang menurut saya menarik untuk dibahas adalah perihal modalitas dalam bahasa Indonesia.

Dalam Kamus Linguistik Edisi Keempat (2008), Kridalaksana mencatat tiga makna modalitas. Yang pertama, modalitas diartikan sebagai ‘klasifikasi proposisi menurut hal menyungguhkan atau mengingkari kemungkinan atau keharusan’. Makna yang kedua adalah ‘cara pembicara menyatakan sikap terhadap suatu situasi dalam suatu komunikasi antarpribadi’. Sementara itu, modalitas juga berarti ‘makna kemungkinan, keharusan, kenyataan, dsb. yang dinyatakan dalam kalimat’. Dalam bahasa kita, modalitas sering kali tecermin melalui unsur leksikal seperti barangkali, harus, dan akan.

Pada 1992, Hasan Alwi menerbitkan buku berjudul Modalitas dalam Bahasa Indonesia yang diangkat dari naskah disertasinya. Di sini, beliau mengulas penggunaan aspek modalitas yang sering kita gunakan, baik secara lisan maupun tulisan, dengan memaparkan empat subklasifikasi modalitas. Perhatikan tabel berikut.

No. Jenis Modalitas Makna Pengungkap
1. Intensional
  1. ‘Keinginan’:
a. Kadar ‘Keinginan’ ingin, menginginkan, mengingini, berkeinginan, menghendaki, berhasrat, dan mendambakan
b. Kadar ‘Kemauan’ mau, hendak, akan, bertekad, dan berketetapan
c. Kadar ‘Maksud’ mau, hendak, akan, bermaksud, berniat, berhajat, bernadar, dan berkaul
d. Kadar ‘Keakanan’ (sama dengan pengungkap modalitas untuk kadar ‘kemauan’ dan ‘maksud’)
  1. ‘Harapan’
harap, harapkan, mengharapkan, mengharap, berharap, hendaknya, berdoa, doakan, mendoakan, mudah-mudahan, moga-moga, dan semoga
  1. ‘Ajakan’ dan ‘Pembiaran’:
a. ‘Ajakan’ ajak, mengajak, imbau, mari(lah), ayo(lah), dan mengimbau
b. ‘Pembiaran’ biar(lah) dan biarkan(lah)
  1. ‘Permintaan’
sudilah, sukalah, saya minta, saya mohon, silakan, coba, tolong, dan mohon
2. Epistemik
  1. ‘Kemungkinan’
dapat, bisa, boleh, mungkin, barangkali, dapat saja, bisa saja, boleh saja, bisa-bisa, bisa jadi, dan boleh jadi
  1. ‘Keteramalan’
akan, saya pikir, saya rasa, saya kira, agaknya, tampaknya, rasanya, kabarnya, konon, diduga, sepertinya, diperkirakan, dll.
  1. ‘Keharusan’
harus, mesti, wajib, perlu, patut, seharusnya, semestinya, sebaiknya, sepantasnya, seyogianya, selayaknya, dll.
  1. ‘Kepastian’
pasti, tentu, tentunya, tentu saja, niscaya, saya yakin, saya percaya, dll.
3. Deontik
  1. ‘Izin’
boleh, dapat, bisa, izinkan, perbolehkan, perkenankan, dll.
  1. ‘Perintah’
wajib, mesti, harus, haruskan, mengharuskan, perintahkan, memerintahkan, diperintahkan, melarang, tidak boleh, jangan, dll.
4. Dinamik ‘Kemampuan’ dapat, bisa, mampu, dan sanggup

Modalitas memang merupakan salah satu topik yang sudah banyak dibahas oleh para ahli bahasa. Aristoteles dianggap sebagai pemikir pertama yang mencetuskan topik ini. Ophuijsen (1901), Slametmuljana (1957), Poerwadarminta (1967), Moeliono (1976), Sudaryanto (1983), Samsuri (1985), Kridalaksana (1984), serta Suparta (1988) adalah nama-nama yang turut memberikan perhatian terhadap modalitas. Perlu dicatat, karya Hasan Alwi tidak boleh luput sebagai rujukan perihal modalitas dalam bahasa Indonesia.

Berkat sumbangsihnya terhadap perjalanan bahasa Indonesia, Hasan Alwi mendapatkan tiga tanda kehormatan dari pemerintah, yaitu Satyalancana Dwidya Sistha (1984), Satyalancana Karya Satya Tingkat III (1988), dan Satyalancana Karya Satya 30 Tahun (2001).

Beliau tutup usia pada 25 Juli 2016.

 

Rujukan:

  • Abdurahman. 2011. “Teori Modalitas sebagai Materi Pembelajaran Bahasa Indonesia”. Dalam Jurnal Bahasa dan Seni, Vol. 12, No. 1, hlm. 1–9. Padang: Universitas Negeri Padang.
  • Alwi, Hasan. 1992. Modalitas dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
  • Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Berita Duka: Dr. Hasan Alwi Wafat. Diakses pada 3 Mei 2021.
  • Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Hasan Alwi. Diakses pada 3 Mei 2021.
  • Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin