Majas adalah salah satu konsep yang sukar untuk didefinisikan. Bahkan, Kamus Linguistik Edisi Keempat (2008) tidak menyertakan entri majas di dalamnya. Sementara itu, KBBI V daring hanya menyamakan majas dengan ‘kiasan’.

Namun, saya menemukan satu artikel yang ditulis oleh Profesor Okke Zaimar. Dalam tulisannya yang berjudul “Majas dan Pembentukannya”, Zaimar menjelaskan bahwa pada 1972, Ducrot dan Todorov mengemukakan tiga tataran bahasa:

  1. Tataran Bunyi dan Grafis
  2. Tataran Sintaksis
  3. Tataran Semantik

Tataran semantik itulah yang memicu kehadiran majas. Lebih lanjut, Moeliono (1979) dalam Zaimar (2002) menuliskan bahwa majas terbagi ke dalam tiga golongan, yaitu majas perbandingan, pertentangan, dan pertautan. Pada tulisan ini, kita akan mengupas majas perbandingan.

Simile

Simile termasuk ke dalam majas perbandingan. Majas ini sering juga disebut sebagai perbandingan atau perumpamaan. Gorys Keraf menambahkan bahwa simile kerap disandingkan dengan persamaan. Ciri majas ini ditandai dengan kata-kata seperti, sama, sebagai, bagaikan, laksana, dan sebagainya. Contohnya adalah sebagai berikut.

  1. Matanya seperti rembulan di tengah malam.
  2. Usahamu bagaikan menguras air laut.

Metafora

Metafora dibedakan menjadi dua jenis, yakni metafora in praesetia dan metafora in absentia. Jenis yang pertama memiliki sifat eksplisit. Contohnya, Robi adalah hidung belang! Sementara itu, jenis yang kedua bersifat implisit, seperti pada contoh Robi telah mempermainkan perasaan sang kembang desa

Secara umum, metafora menampilkan dua unsur (kata atau bentuk lain) yang dibandingkan. Pada metafora in praesetia, kedua unsur tersebut tertulis secara eksplisit, yakni Robi dan hidung belang. Sebaliknya, pada contoh kedua, sang kembang desa berdiri sebagai metafora in absentia karena tidak disandingkan dan dibandingkan dengan unsur lain.

Lebih dari itu, metafora ternyata memiliki subklasifikasi lagi. Personifikasi, depersonifikasi, dan perbandingan unsur konkret-abstrak adalah tiga majas yang termasuk ke dalam metafora.

Personifikasi

Dalam majas ini, binatang, tanaman, atau benda ditampilkan sebagai manusia. Sementara itu, menurut Kridalaksana, personifikasi adalah penggambaran benda mati yang seolah-olah hidup. Perhatikan contoh berikut.

  1. Aku bermain sepak bola saat langit begitu gelap. Tak lama kemudian, tubuhku dimandikan oleh hujan.
  2. Pagi ini, angin membawa kabar buruk.
  3. Gonggongan anjing galak itu mengusir kedatanganku.

Pada contoh-contoh di atas, dimandikan, membawa, dan mengusir adalah tiga kata kunci yang menandakan personifikasi. Hujan, angin, dan gonggongan anjing ditampilkan sebagai manusia.

Depersonifikasi

Majas ini adalah kebalikan dari personifikasi. Berarti, manusia ditampilkan sebagai binatang, tanaman, atau benda. Misalnya, Aku mematung melihat paras cantiknya.

Perbandingan Unsur Konkret-Abstrak

Di sini, konkret berarti sesuatu yang dapat ditangkap dengan pancaindra, sedangkan abstrak adalah sesuatu yang berada di luar pancaindra. Majas ini menggolongkan dua unsur yang dibandingkan berdasarkan sifat konkret dan abstraknya.

a. Perbandingan unsur konkret dengan unsur konkret lain.

Contoh: “Rini merupakan tulang punggung keluarga.”

b. Perbandingan unsur konkret dengan unsur abstrak.

Contoh: “Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak.” Kuman dan gajah adalah dua unsur konkret yang dibandingkan secara implisit dengan unsur abstrak kesalahan.

c. Perbandingan unsur abstrak dengan unsur konkret.

Contoh: “Cinta tidak selalu bertemu di pelaminan.” Cinta adalah sesuatu yang abstrak, sedangkan pelaminan merupakan tempat yang konkret.

d. Perbandingan unsur abstrak dengan unsur abstrak lainnya.

Contoh: “Harapan bisa menjadi semangat hidup manusia.”

Zaimar menuliskan bahwa perbandingan yang ditinjau berdasarkan sifat konkret dan abstrak dari dua unsur dapat bertumpang tindih dengan metafora personifikasi dan depersonifikasi. Bahkan, menurut saya, banyaknya klasifikasi pada majas metafora bisa membuat kita kebingungan dalam melakukan penggolongan. Akan tetapi, jika saya cermati lebih jauh, klasifikasi-klasifikasi tersebut bisa membantu kita dalam mengupas sesuatu.

Ambillah satu contoh di atas, yaitu Robi telah mempermainkan perasaan sang kembang desa. Sang kembang desa merupakan metafora in absentia karena tidak dibandingkan dengan unsur lain secara eksplisit. Kita pun sama-sama tahu bahwa kembang desa merujuk pada perempuan cantik. Dengan demikian, ia pun tergolong ke dalam depersonifikasi. Kemudian, dengan menganggap kembang desa sebagai perempuan cantik, berarti ia merupakan perbandingan antara unsur konkret dengan unsur konkret. Maka, dalam kalimat tersebut, sang kembang desa adalah majas metafora, khususnya depersonifikasi in absentia yang membandingkan unsur konkret dengan unsur konkret.

 

Rujukan:

  • Keraf, Gorys. 2006. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • Zaimar, Okke. 2002. “Majas dan Pembentukannya”. Dalam Jurnal Makara, Sosial Humaniora Vol. 6, No. 2, Desember. Depok: Universitas Indonesia.

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin