Bagi saya, kompleksitas kalimat dalam bahasa Indonesia sama halnya dengan rumus matematika. Kalimat memiliki pola, unsur, makna, fungsi, dan jenis yang tidak kalah rumitnya dengan aljabar. Dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (2017), jenis kalimat dapat dibedakan berdasarkan empat hal sebagai berikut:

  • Jumlah klausa (kalimat simpleks, kompleks, majemuk, dan majemuk kompleks)
  • Jenis predikat (kalimat berpredikat verbal, adjektival, nominal dan pronominal, serta numeralia dan preposisional)
  • Kategori sintaksis (kalimat deklaratif, imperatif, interogatif dan eksklamatif)
  • Kelengkapan unsur (kalimat lengkap atau mayor dan taklengkap atau minor) 

Selain itu, kalimat juga dapat dibedakan menurut segi konstruksinya sesuai dengan penataan informasi. Pembagian ini terdiri atas inversi, pengedepanan, pengebelakangan, dislokasi kiri, dislokasi kanan, ekstraposisi, serta pembelahan. Dari tujuh konstruksi tersebut, mari kita mulai dengan membahas mengenai inversi.

Lazimnya, susunan kalimat yang paling umum adalah ketika subjek mendahului predikat dan diikuti objek. Inversi membalikkan urutan antara subjek dan predikat dalam kalimat sehingga menghasilkan konstruksi kalimat dengan predikat mendahului subjek. Contohnya seperti ini:

  1. Adikmu itu sedang kecewa dengan hasil ujiannya
  2. Sedang kecewa adikmu itu dengan hasil ujiannya. 

Pada contoh pertama, Adikmu itu bersifat takrif sehingga menjadi informasi lama yang sudah diketahui oleh pendengarnya. Dalam Kamus Linguistik: Edisi Keempat (2009), ketakrifan adalah hal yang bersangkutan dengan sifat nomina atau frasa nominal yang referennya telah ditentukan atau diketahui oleh pelaku dan mitra tutur. Dengan inversi, predikat akan mendahului subjek seperti pada contoh kedua.

Selain untuk memberikan penekanan pada unsur tertentu dan membuat variasi dalam tulisan atau ujaran, inversi juga dapat digunakan untuk memperjelas keutuhan informasi dalam sebuah kalimat. Perhatikan contoh berikut.

  1. Kucing hitam ada di depan pagar.
  2. Ada kucing hitam di depan pagar.

Contoh pertama di atas terasa janggal. Hal ini terjadi lantaran subjek (kucing hitam) yang disebutkan oleh pembicara bersifat taktakrif atau tidak diketahui oleh pendengarnya. “Kucing hitam? Kucing hitam yang mana?” Barangkali, itulah yang akan kita tanyakan kepada penutur. Sementara itu, penempatan subjek kucing hitam pada contoh kedua telah sesuai dengan prinsip umum mengenai penataan informasi. Kita pun dapat mengetahui bahwa lawan bicara sedang memberikan informasi tentang keberadaan kucing hitam di depan pagar.

Simpulannya, inversi memungkinkan pembalikan struktur kalimat dengan menempatkan predikat di depan subjek untuk tujuan tertentu. Inversi dapat digunakan untuk mempercantik tulisan. Kemudian, apabila sebuah kalimat terasa janggal, kita bisa menggunakan inversi untuk memperjelas keutuhan informasi. 

 

Rujukan:

  • Kridalaksana, Harimurti. 2009. Kamus Linguistik: Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
  • Moeliono, Anton. M dkk. 2017. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin