Sebelumnya, saya sudah pernah menguraikan perbedaan objek dan pelengkap. Apabila objek dapat menjadi subjek pada kalimat pasif, pelengkap tidak. Kehadiran pelengkap pun bergantung pada jenis predikat, yaitu verba transitif dan intransitif. Selain itu, pemaparan Moeliono dkk. mengenai jenis-jenis keterangan juga sudah saya ringkas di sini. Baik pelengkap maupun keterangan dapat berwujud frasa preposisional. Lantas, bagaimana cara membedakannya?

Pelengkap

Dalam sebuah kalimat, pelengkap dapat berwujud frasa nominal, frasa verbal, frasa adjektival, frasa preposisional, dan klausa. Perhatikan contoh berikut yang saya ambil dari berbagai rujukan.

  1. Botol itu berisi air putih. (frasa nominal)
  2. Saya mengira dia tidak tahu. (frasa verbal)
  3. Dia menganggap saya marah sekali. (frasa adjektival)
  4. Saya sering berbicara tentang hal ini. (frasa preposisional)
  5. Dia memberi adik topi berwarna hitam. (klausa)

Saya mau mengingatkan kembali bahwa pelengkap dapat berdiri langsung di sebelah kanan predikat, selama predikat tersebut diisi oleh verba intransitif. Namun, jika predikat diisi oleh verba transitif, pelengkap harus berada di sebelah kanan objek. Perhatikan contoh berikut. 

  1. Saya berjualan sayur bayam.
  2. Saya menjual sayur bayam yang segar.

Pada kalimat pertama, berjualan adalah verba intransitif. Sayur bayam pun berdiri sebagai pelengkap berupa frasa nominal. Namun, pada kalimat kedua, menjual adalah verba transitif sehingga sayur bayam berubah menjadi objek dan frasa adjektival yang segar muncul selaku pelengkap.

Setidaknya, itu adalah konsep dasar yang perlu kita ketahui ketika hendak memahami fungsi pelengkap dalam kalimat. 

Keterangan

Sementara itu, keterangan adalah fungsi sintaksis yang dapat hadir berupa nomina atau frasa nominal, frasa numeral, frasa preposisional, dan adverbial. Simak contoh di bawah ini yang saya ambil dari buku Seri Penyuluhan Bahasa Indonesia: Kalimat (2015).

  1. Dia telah datang kemarin. (nominal)
  2. Artis sinetron itu meninggal dunia Minggu pagi. (frasa nominal)
  3. Anak Pak Lurah telah diwisuda tiga hari yang lalu. (frasa numeral)
  4. Orang tua saya pernah bekerja di perusahaan kayu lapis. (frasa preposisional)
  5. Agaknya saran itu mulai diperhatikan. (adverbia)

Perlu diketahui bahwa keterangan dapat tergolong menjadi dua jenis sifat, yaitu keterangan wajib dan keterangan takwajib atau manasuka. Keterangan yang bersifat wajib merupakan bagian dari predikat. Pada kalimat Tugu Monas berada di Jakarta, verba berada menuntut adanya keterangan. Maka, muncullah frasa preposisional lokatif di Jakarta yang tidak dapat berpindah lokasi.

Di lain sisi, keterangan yang bersifat manasuka bukan bagian dari predikat sehingga tidak wajib untuk dimunculkan. Pada kalimat Dia telah datang kemarin, kata kemarin bisa ditanggalkan. Keterangan manasuka dapat berpindah-pindah sehingga kalimat tersebut bisa saja menjadi Kemarin, dia telah datang.

Perbedaan Pelengkap dan Keterangan

Beberapa rujukan yang saya baca tidak mengemukakan perbedaan pelengkap dan keterangan secara eksplisit. Namun, kita bisa menarik sedikit kesimpulan. Pertama, pelengkap dan keterangan sama-sama bergantung pada predikat. Letak pelengkap ditentukan oleh perilaku sintaksis verbanya, yakni transitif atau intransitif. Sementara itu, predikat pun mampu mengontrol kehadiran keterangan wajib dan manasuka. 

Kedua, mengenai perbedaannya, Kridalaksana menyinggung sedikit bahwa pelengkap—bersama subjek, predikat, dan objek—merupakan bagian inti klausa dan inti di dalam sebuah kalimat. Maka dari itu, pelengkap tidak begitu leluasa untuk berganti lokasi. Di lain sisi, keterangan adalah bagian di luar inti klausa. Posisi keterangan dapat berpindah jika ia bukan bagian dari predikat. Kita bisa melihat bahwa, dalam bahasa Indonesia, keterangan yang dapat berpindah-pindah ini begitu produktif. Setidaknya, keleluasaan inilah yang dapat kita pegang sebagai pembeda antara pelengkap dengan keterangan.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana cara membedakan pelengkap dan keterangan dalam sebuah kalimat yang sama? Perhatikan contoh berikut.

  1. Kemarin pagi (Ket), saya (S) menghadiahi (P) Ibu (O) baju lebaran (Pel).
  2. Saya (S) menghadiahi (P) Ibu (O) baju lebaran (Pel) kemarin pagi (Ket).
  3. Saya (S) menghadiahi (P) Ibu (O) baju lebaran (Pel).

Pada tiga kalimat tersebut, keterangan bisa berpindah dan dihilangkan. Namun, kita lihat, pelengkap setia mengikuti objek karena menghadiahi adalah verba transitif. 

Masalah berikutnya, bagaimana cara membedakan pelengkap dan keterangan jika sebuah kalimat memiliki verba intransitif? Simak contoh di bawah ini.

  1. Saya (S) berjualan (P) sayur bayam (Pel) di pasar (Ket).
  2. Di pasar (Ket), saya (S) berjualan (P) sayur bayam (O).

Polanya pun sama, keterangan dapat berpindah-pindah. Namun, pelengkap setia mengikuti verba intransitif berjualan

Lalu, seperti yang sudah saya sebutkan sejak awal, pelengkap dan keterangan dapat berwujud frasa preposisional. Lalu, dalam kalimat, bagaimana cara membedakannya? Perhatikan contoh berikut.

  1. Saya (S) sering berbicara (P) tentang hal ini (Pel).
  2. Saya (S) sering berbicara (P) tentang hal ini (Pel) di kantor (Ket).
  3. Di kantor (Ket), saya (S) sering berbicara (P) tentang hal ini (Pel).

Begitulah. Lagi-lagi, keterangan manasuka dapat dimunculkan, dihilangkan, dan dipindah-pindahkan. Sementara itu, pelengkap berbentuk frasa preposisional mengikuti verba intransitif berbicara. Saya belum menemukan contoh kalimat yang memiliki keterangan wajib dan pelengkap sekaligus.

Ada satu catatan penting. Menurut Moeliono dkk., jika verba intransitif berbicara diubah menjadi verba transitif membicarakan, pelengkap tentang hal ini akan beralih fungsi menjadi objek. Preposisi tentang pun akan hilang sehingga hal ini menjadi frasa nominal.

  1. Saya (S) sering membicarakan (P) hal ini (O) di kantor (Ket).
  2. Di kantor (Ket), saya (S) sering membicarakan (P) hal ini (O)

 

Rujukan:

  • Kridalaksana, Harimurti, dkk. 1985. Tata Bahasa Deskriptif Bahasa Indonesia: Sintaksis. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Moeliono, Anton M., dkk. 2017. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
  • Sasangka, Sry Satriya Tjatur Wisnu. 2015. Seri Penyuluhan Bahasa Indonesia: Kalimat. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin