Harrits Rizqi, salah satu anggota Tim Nara, merekomendasikan satu buku kepada saya. Buku itu berjudul Language and Meaning (2018) yang ditulis oleh Betty J. Birner, seorang linguis dari Amerika. Sesuai dengan judulnya, buku ini membahas bahasa dan makna dari segi semantik serta pragmatik.

Language and Meaning dibuka dengan satu pertanyaan, yang menurut saya, filosofis, “What is meaning?” Birner kemudian menuliskan bahwa hidup ini punya arti atau makna. Begitu pula dengan kata. Namun, apakah keduanya merujuk pada makna yang sama? Dua contoh berikut diberikan oleh Birner untuk membedakan dua jenis makna.

  1. Aku tidak bermaksud menyakitimu. (I didn’t mean to hurt you.)
  2. Awan kelabu itu menandakan hujan akan turun. (Those dark clouds mean rain is coming.)

Kita lihat, dalam bahasa Inggris, dua contoh tersebut sama-sama memiliki kata mean. Namun, keduanya memiliki arti yang berbeda ketika dimasukkan ke dalam kalimat yang berbeda pula. Jika kita cermati lebih jauh, kalimat pertama mengindikasikan satu maksud atau tujuan, yaitu sang aku berupaya mengatakan bahwa ia tidak bermaksud untuk menyakiti si kamu. Sementara itu, pada kalimat kedua, awan tentu tidak punya maksud untuk memberi tahu kita bahwa hujan akan segera turun.

Perbedaan tersebutlah yang kemudian mengantarkan kita pada pemahaman makna natural dan nonnatural. Terminologi ini pertama kali dicetuskan oleh H.P. Grice. Kalimat kedua menunjukkan makna natural sebab peristiwa tersebut terjadi dengan alamiah. Sementara itu, kalimat pertama mencerminkan makna nonnatural. Secara umum, hal-hal yang tergolong ke dalam pembahasan linguistik memiliki makna nonnatural.

Pemahaman mengenai makna nonnatural akan berujung pada sifat arbitrer atau manasuka bahasa. Bahasa bersifat arbitrer. Tidak ada relasi alamiah atau yang terjadi begitu saja antara lampu lalu lintas dengan perintah untuk menghentikan kendaraan. Makna lampu lalu lintas yang berwarna merah ditujukan untuk kita berhenti. Makna tersebut dikonstruksi dan disepakati.

Sebelumnya, saya bilang bahwa linguistik secara umum membahas makna nonnatural. Akan tetapi, ada satu pengecualian. Onomatope mampu merepresentasikan makna secara alamiah. Misalnya, gonggong atau meong yang memaknai suara anjing dan kucing. Dengan demikian, onomatope memiliki makna natural. Di lain sisi, tentu saja, kita perlu mengingat bahwa bahasa lain punya onomatope yang berbeda untuk suara anjing dan kucing, woof atau meow, misalnya. Berarti, onomatope pun memiliki sifat arbitrer. Birner menuliskan bahwa onomatope berada di tengah-tengah. Ia adalah ihwal linguistik yang sebagian maknanya juga merupakan makna natural.

 

Rujukan:

  • Birner, Betty J. 2018. Language and Meaning. New York: Routledge.
  • Davis, Wayne A. 2007. “Grice’s Meaning Project”. Dalam Jurnal Teorema: Revista Internacional Filosofia, Vol. 2, No. 2 (hlm. 41–58).

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin