Aksaraloka Jilid 2 berhasil digelar secara daring pada 28 Oktober 2020 lalu. Dengan bertema “Merawat Bahasa Kita”, acara itu terdiri atas beberapa segmen, yakni Gelar Puisi, Gelar Wicara, Gelar Harap, dan Gelar Musikalisasi Puisi. Bagi beberapa orang, ternyata pandemi bukan menjadi alasan untuk tidak merayakan Hari Sumpah Pemuda dan berhenti memupuk cinta terhadap bahasa Indonesia.

Bagi saya, sesi yang paling menarik adalah Gelar Wicara. Ivan Lanin selaku Direktur Utama Narabahasa berbincang-bincang dengan Ganjar Harimansyah, Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah. Di sini, keduanya berbicara perihal cinta untuk bahasa Indonesia.

Mengapa bahasa Indonesia perlu kita cintai sebegitunya? Anggap saja, bahasa adalah pasangan hidup. Seperti yang diutarakan oleh Bapak Ganjar, pada waktu-waktu tertentu, cinta membutuhkan bukti. Kadang, perwujudan cinta kita berbuah pengorbanan. Kita rela menghabiskan waktu dan tenaga karena alasan cinta. Kita bahkan sudi untuk mendengarkan, memahami, menemani, dan menerima segala kekurangan yang ada.  Dengan kata lain, kita mau merawat pasangan kita sebab saya rasa tidak ada manusia yang mampu bertahan sendirian tanpa bantuan orang lain.

Namun, dalam sebuah hubungan, sepasang kekasih harus bisa saling melengkapi. Apabila tidak, jalinan itu akan menjelma hubungan yang toksik. Lalu bagaimana caranya agar kita juga merasa dicintai oleh apa yang kita cintai? Bagaimana caranya menjalin hubungan yang sehat dengan bahasa, yang sejatinya merupakan suatu ide atau konsep?

Ada satu kalimat dalam salindia Bapak Ganjar yang menarik untuk direnungkan. Katanya, “Batas bahasa kita, batas dunia kita.” Saya rasa, sudah menjadi kodrat manusia untuk mencari jawaban. Banyak keresahan yang muncul seiring berjalannya hidup. Kita lalu mulai bertualang ke sana-sini, bertanya kepada orang lain, dan berselancar di internet demi mendapatkan kepastian. Barangkali kita tidak menyadari hal ini secara langsung. Namun, dalam setiap perjalanan, kita membutuhkan bahasa sebagai identitas, bekal, dan teman.

Bahasa mampu mempertemukan kita dengan orang banyak. Baik melalui bahasa lisan, tulisan, maupun isyarat, kita menikmati hidup karena mendengar banyak cerita dari beragam sudut pandang. Bahasa adalah penyambungnya. Pun, ketika penat, kita akan mencari hiburan berupa film, buku, dan musik yang menggunakan medium bahasa.

Selayaknya hubungan yang sehat, mencintai orang lain sebaiknya menjadi perwujudan atas kecintaan kita terhadap diri sendiri. Dengan mencintai diri sendiri, kita mencintai orang lain. Begitu pula sebaliknya. Dengan mencintai bahasa, kita bisa mencintai diri sendiri. Kita terus hidup guna mencari makna dan berguna bagi lingkungan sekitar kita.

Semoga hubungan kita dengan bahasa bisa terus langgeng, saling melengkapi, dan saling mengisi.

 

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin