Sebagai seorang editor bahasa, saya sering mendapatkan pertanyaan dari teman-teman penulis, “Bagaimana cara membuat tulisan yang bagus?” Tentu sulit untuk menjawab itu. Ujung-ujungnya, saya hanya akan menjawab, ya, tergantung

Akan tetapi, apabila diminta untuk menyarankan satu hal, saya akan memohon teman-teman penulis untuk menulis dengan rapi. Apa pun jenis tulisannya, baik puisi, cerpen, novel, artikel, bahkan laporan rapat, saya rasa sebaiknya tulisan itu ditulis dengan struktur yang jelas, kalimat yang efektif, diksi yang tepat, juga ejaan yang dilandasi alasan. Dalam karya fiksi, misalnya, kita memilih “analisa” alih-alih “analisis” demi mengejar efek puitis atau untuk membentuk rima. Apabila didiskusikan, alasan tersebut bisa saja diterima.

Guna mengasah kemampuan untuk menulis dengan rapi, kita bisa mempelajari tataran praktis bahasa. Bisa dibilang, tataran ini merupakan satuan atau komponen-komponen yang membentuk satu tulisan utuh. Kalau diurutkan dari tingkat yang paling kecil hingga yang terbesar, tataran praktis bahasa terdiri atas ejaan, kata, kalimat, paragraf, dan wacana.

Ejaan

Ejaan mengatur penggambaran bunyi kata dan kalimat serta penggunaan tanda baca. Selain itu, ejaan juga berpengaruh terhadap penulisan huruf besar, huruf kecil, dan huruf miring. Memperhatikan ejaan adalah langkah awal untuk menyusun tulisan yang rapi. Buku penyuluhan tentang ejaan bisa diunduh di http://s.id/penyuluhan-ejaan.

Kata

Dalam bahasa Indonesia, bentuk kata dibedakan menjadi kata dasar dan kata turunan. Hal inilah yang dibahas dalam tataran kata dalam bahasa yang akan dilengkapi dengan penjelasan mengenai proses pembentukan kata, bahkan kiat-kiat memilih kata. Buku penyuluhan tentang kata bisa diunduh di http://s.id/penyuluhan-kata

Kalimat

Setelah memahami ejaan dan kata, kita bisa mulai menyusun kalimat. Pada tataran ini, kita akan mempelajari frasa, klausa, jenis kalimat, dan ciri kalimat efektif. Ingat, kalimat memuat sebuah pesan. Sebagai seorang penulis, kita sebaiknya bisa menyampaikan gagasan atau ide sejelas mungkin. Buku penyuluhan tentang kalimat bisa diunduh di http://s.id/penyuluhan-kalimat.

Paragraf

Paragraf adalah kumpulan kalimat. Dalam satu paragraf, kalimat-kalimat sejatinya memiliki benang merah atau dengan kata lain mengandung ide pokok. Penulis harus bisa mengetahui ide pokok yang ingin disampaikan dalam sebuah paragraf. Setelah itu, paragraf dapat disusun dengan mengindahkan kepaduan antarkalimat di dalamnya, menggunakan kata hubung yang tepat, serta menjaga keutuhan alur paragraf-paragraf dalam sebuah tulisan. Kita juga wajib memahami peran paragraf sebagai pembuka, isi, dan penutup tulisan. Buku penyuluhan tentang paragraf bisa diunduh di http://s.id/penyuluhan-paragraf.

Wacana

Tataran terakhir adalah wacana, yakni satuan bahasa terlengkap berbentuk karangan atau dokumen utuh. Wacana merupakan karya final seorang penulis, baik sebagai produk fiksi atau nonfiksi, sebagai monolog, dialog, atau polilog. Berdasarkan pemaparan, wacana digolongkan menjadi wacana naratif, deskriptif, ekspositoris, argumentatif, persuasif, hortatoris, dan prosedural. Sementara berdasarkan fungsi bahasa, wacana diklasifikasikan menjadi wacana ekspresif, fatis, informatif, estetis, dan direktif. Ilmu tentang wacana bisa dibaca pada buku Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik (2009) dan Keutuhan Wacana (2010).

Bagus atau tidaknya sebuah tulisan tentu tidak lepas dari selera setiap individu. Namun, tataran praktis bahasa bisa membantu penulis dalam mengasah kemampuan sehingga mampu menyusun tulisan yang lebih rapi. Terlebih, penulis mampu menyadari kekurangan tulisannya sendiri dan melakukan perbaikan sebelum diambil alih oleh editor. Kreativitas pun dapat terbentuk ketika kita tidak berhenti untuk menggali ilmu dan terus belajar. Setelah itu, jangan lupa untuk terus menulis.

Jadi, kalau ditanya, “Bagaimana caranya membuat tulisan yang bagus?”, saya akan menjawab: Ya, tergantung kesungguhanmu.

 

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin