Kelewahan adalah “kelebihan” dan “kemubaziran”. Baik dalam lisan maupun tulisan, kita kadang secara tidak sadar menerapkan kelewahan dalam berbahasa. Tidak jarang, kata-kata dan kalimat kita menjadi mubazir atau tidak ekonomis karena dirundung repetisi yang tidak perlu.

Sebelumnya, saya sudah menulis lewah konjungsi yang berfokus pada kasus jikamaka dan meskipun-tetapi. Penggunaan konjungsi jika, maka, dan meskipun mencirikan klausa subordinatif atau anak kalimat. Ketika kedua bagian kalimat diberi konjungsi-konjungsi itu, keduanya menjadi anak kalimat dan kalimat pun kehilangan induk kalimat. Ingat, syarat berdirinya sebuah kalimat bergantung pada keberadaan induk kalimat. Selain itu, lewah konjungsi juga dapat kita temui pada penggunaan agar supaya yang sebetulnya saling bersinonim. 

Perlu diketahui, kelewahan dalam berbahasa tidak hanya terjadi pada tataran konjungsi. Sangat besar sekali, misalnya. Sebagai adverbia, sangat dan sekali merupakan pewatas atau pemarkah kualitas besaran. Sebaiknya, pilihlah salah satu. Kita bisa menggunakan sangat besar atau besar sekali. Kita pun juga harus memperhatikan penggunaan hanya saja. Dalam kalimat “Saya hanya ingin melihatmu saja”, pilihlah hanya atau saja. Gunakan keduanya sesuai dengan konteks dan maksud. Tentu, “Saya hanya ingin melihatmu” memiliki kesan yang berbeda dengan “Saya ingin melihatmu saja”.

Contoh lainnya adalah banyak orang-orang. Hati-hati. Orang-orang sudah menandakan entitas yang banyak. Kita juga bisa menggunakan banyak orang. Pola kelewahan juga tampak pada beberapa hal-hal, semua perkara-perkara, dan sejumlah pakaian-pakaian.

Kemudian, sebetulnya, saling tukar-menukar juga menunjukkan kelewahan sebab tukar-menukar sudah menandakan kesalingan. Kita juga bisa pakai saling tukar.

Lantas, bagaimana cara menghindari kelewahan berbahasa? Mudah saja. Kita hanya perlu memilih salah satu: jika atau maka, meskipun atau tetapi, agar atau supaya, dan seterusnya. Untuk mengatasi sesuatu yang berlebihan atau mubazir, toh, kita harus membuang yang tidak perlu dan memanfaatkan sisanya sebaik mungkin.

 

Rujukan: Moeliono, Anton. M dkk. 2017. Tata Bahasa Baku Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin