Selama ini, kita sudah sering membicarakan semantik dan pragmatika. Keduanya adalah ekspresi linguistik yang saling berkaitan. Namun, tentu saja, terdapat perbedaan antara semantik dengan pragmatika yang perlu kita pahami. Perhatikan contoh berikut ini.

Boleh tolong ambilkan saya minum? 

Secara semantik, kita bisa melihat bahwa seorang penutur meminta minum kepada petutur. Kita, sebagai petutur, bisa saja menjawab pertanyaan tersebut dengan “Tidak boleh.” Namun, pada satu sisi, kita pun sadar jika kalimat tersebut bukanlah semata-mata pertanyaan, melainkan sebuah permintaan. Lebih dari itu, apabila penutur adalah seorang bos dan petutur adalah seorang bawahan, kalimat tersebut merupakan perintah. Inilah analisis konteks dalam kacamata pragmatika yang diterapkan pada ujaran semantis.

Contoh lain yang sering kita temui adalah percakapan melalui telepon. Suatu hari saya menghubungi operator jaringan seluler. Setelah saya menyampaikan keluhan, narahubungnya bertanya, “Maaf, dengan siapa saya berbicara?” Bisa saja saya menjawab, “Ya, dengan saya, lah.” Namun, kita pun sama-sama tahu bahwa narahubung bermaksud menanyakan nama saya.

Dengan mengetahui konteks kalimat, makna kalimat dapat juga berubah. Hal ini telah diungkapkan oleh Levinson (1983) dalam Muhadjir (2017) dengan pernyataan, “Pragmatik adalah telaah tentang hubungan antara bahasa dengan konteks yang diangkat menjadi kaidah gramatikal, atau dinyatakan dalam struktur sebuah bahasa.”

Berarti dapat disimpulkan, apabila semantik berfokus pada makna kata dan kalimat yang tidak terlepas dari semiotika atau semiologi yang membahas tanda-tanda, pragmatika berupaya mengaitkan makna-makna tersebut dengan niat penutur dan petutur.

 

Rujukan:

Markoem, Muhadjir. 2017. Semantik dan Pragmatik: Edisi Kedua. Tangerang: Pustaka Mandiri.

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin