“Pagi itu, waktu aku masih kecil, aku duduk di bangku panjang di depan sebuah kelas.” (Laskar Pelangi, 2008: 1).

“Akhir-akhir ini, tak pernah lagi teman-temanku datang menjengukku.” (Raumanen, 2018: 1).

“Kopi … kopi. Sudah ribuan kali aku mengeja sembari memandangi serbuk hitam itu.” (Filosofi Kopi, 2012: 1).

Tiga kutipan di atas diambil dari halaman pertama pada tiga buku yang berbeda. Baik novel Laskar Pelangi, Raumanen, maupun kumpulan cerpen Filosofi Kopi menggunakan ekspresi deiksis. Hal tersebut diwakili oleh kata ini dan itu.

Menurut Yule dalam Pragmatics (1996: 9), ekspresi deiksis adalah bentuk linguistik yang digunakan untuk merujuk pada sesuatu. Demi melengkapi definisi tersebut, Kushartanti melalui Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik (2005: 111) mengartikan deiksis sebagai cara untuk merujuk pada suatu hal yang berkaitan erat dengan konteks penutur. Terdapat tiga jenis deiksis, yakni deiksis ruang, deiksis persona, dan deiksis waktu.

Deiksis Ruang

Deiksis ruang berkaitan dengan lokasi relatif penutur dan mitra tutur yang terlibat di dalam sebuah interaksi. Kata seperti ini dan itu serta frasa di sini dan di situ mewakili deiksis ruang yang menunjukkan titik tolak setiap penutur. Pada kutipan pertama, misalnya, sang aku dalam Laskar Pelangi menggunakan itu sebab kalimat tersebut sedang mengenang masa lalu, sebuah ruang yang tidak dekat dengan masa sekarang. Hal ini berbeda dengan kutipan dari Raumanen yang menggunakan ini guna menjelaskan keadaan yang baru terjadi.

Deiksis Persona

Pronomina berperan penting dalam menentukan deiksis persona dalam sebuah tulisan, ujaran, atau percakapan. Perhatikan tabel berikut.

Jenis Tunggal Jamak
Orang Pertama aku, saya kami, kita
Orang Kedua engkau, kau, kamu, Anda kamu semua, Anda semua, kalian
Orang Ketiga ia, dia, beliau mereka

Perlu dicatat, penutur bahasa Indonesia sering kali menggunakan namanya sendiri untuk pronomina orang pertama tunggal. Sementara itu, pronomina orang kedua tunggal juga kerap kali diganti dengan sapaan yang lebih sopan, seperti Bapak, Ibu, dan Saudara.

Deiksis Waktu

Deiksis ini berkaitan dengan waktu relatif yang diucapkan oleh penutur kepada mitra tutur. Dalam bahasa Indonesia, kata yang mencerminkan penggunaan deiksis waktu adalah dahulu, sekarang, dan nanti. Selain itu, kemarin, hari ini, dan besok juga dapat digunakan untuk menunjukkan deiksis waktu. Hal ini berbeda dengan bahasa Inggris yang bisa menunjukkan deiksis waktu lewat bentuk kala dalam verba. Tentunya, work dan worked menunjukkan waktu yang berbeda.

Deiksis adalah salah satu aspek kajian pragmatika. Dengan memperhatikan deiksis, kita bisa mengenal konteks ruang, persona, dan waktu dalam sebuah ujaran. Bahkan, lebih dari itu, deiksis juga dapat dimanfaatkan untuk membuka sebuah cerita. Buktinya, ketiga cerita yang saya kutip di awal tadi, mengandalkan deiksis sehingga kita sebagai pembaca mampu terjun ke dalam konteks yang lebih jelas.

 

Rujukan

  • Hirata, Andrea. 2008. Laskar Pelangi. Yogyakarta: Penerbit Bentang
  • Katoppo, Marianne. 2018. Raumanen. Jakarta: Grasindo
  • Kushartanti, dkk. (Ed). 2005. Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.
  • Lestari, Dewi. 2012. Filosofi Kopi. Yogyakarta: Penerbit Bentang
  • Yule, George. 1996. Pragmatics. New York: Oxford University Press.

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin