Tabik.

Tahun 2020–2022 adalah tahun yang berat bagi sebagian besar orang. Hampir seluruh penduduk dunia memaksakan diri berteman dengan teknologi untuk menunjang pekerjaan dan kegiatan-kegiatan lainnya. Beragam inovasi pun dilakukan. 

Kelas daring yang saat prapandemi seakan disepelekan, justru menjadi hal yang lazim diikuti pascapandemi. Jika festival musik daring prapandemi seakan mustahil, layanan konser musik digital pascapandemi malah menjamur. Keadaan ini seakan-akan mendorong kita untuk mendekatkan hal-hal yang mulanya jauh. Pandemi memberi kita banyak peluang untuk berkenalan dan mencoba hal-hal baru. Tidak terkecuali Narabahasa.

Pada 2022, Narabahasa melaksanakan lebih dari 100 kelas dan acara. Jumlah itu belum termasuk kelas pada tahun-tahun sebelumnya yang sudah pasti didominasi kelas daring. Saya jadi ingat, Narabahasa lahir tepat satu bulan sebelum pandemi dimulai. Kami memulai kelas melalui WhatsApp, kemudian mulai merambah ke Zoom sekaligus membuka kelas daring mandiri yang dapat diunduh. Baru sekitar tiga bulan terakhir, pelatihan kami (akhirnya) didominasi kelas tatap muka. Rasanya menenangkan melihat dan merasakan kehadiran seseorang tanpa terhalang sinyal dan layar. Meski begitu nyaman, kami tetap membuka pilihan untuk kelas daring karena beberapa orang masih sulit melipat jarak ke kota kami.

Dengar-dengar, PPKM resmi dicabut. Dari pengalaman kami yang sebentar lagi berusia tiga tahun ini, ada beberapa perbedaan antara kelas tatap muka dan kelas daring. Pertama, biaya tatap muka relatif lebih tinggi dibandingkan pertemuan daring. Kedua, pilihan waktu dan peserta terbatas. Ketiga, lokasi harus jelas berada di satu tempat. Belum lagi urusan logistik yang lebih ribet

Berbeda dengan kelas tatap muka, biaya kelas daring biasanya lebih murah. Waktu dan tempat pun sangat fleksibel dan tidak terbatas. Selain itu, logistik yang diperlukan juga lebih sedikit dibanding kelas tatap muka. 

Selain hal-hal teknis, ada pula aspek komunikasi, ikatan, dan fokus yang berbeda secara signifikan di antara keduanya. Dalam kelas tatap muka, peserta dapat berkomunikasi tidak hanya secara verbal, tetapi juga menggunakan gestur. Karena saling bertemu, ikatan kekerabatan pun cenderung menjadi lebih erat. Kerabat Nara pilih yang mana?

Satu hal lagi yang penting: Kelas tatap muka mendorong kita untuk mandi. Pada 5 Februari mendatang, saya bahkan sudah bertekad akan mandi pukul 7 pagi, memulai perjalanan pada pukul 8, dan mengikuti Kelas Luring Publik (KLP) Penyuntingan Dasar pada pukul 9. Untuk menghadiri acara yang akan berlangsung di D’ Hotel, Jakarta, itu, Kerabat Nara akan mandi pukul berapa?

 

Salam,

Thesa Nurmanarina

Sekretaris Direktur dan Spesialis Hubungan Masyarakat.