Tabik.

Jika Kerabat Nara perhatikan, gaya bahasa yang digunakan pada berita berbeda dengan bahasa Indonesia pada umumnya. Penyampaian informasi dalam berita, terutama berita terkini yang membahas topik-topik hangat, berkesan cepat dan singkat. 

Salah satu contoh yang paling umum adalah penghilangan kata bahwa pada beberapa kondisi. Misalnya, alih-alih menulis “Presiden mengatakan bahwa pemilu akan dilaksanakan pada 2024”, jurnalis cenderung lebih suka menulis “Presiden mengatakan, pemilu akan dilaksanakan pada 2024”. Selain itu, kalimat-kalimat yang digunakan dalam berita juga tidak terlalu panjang. Sebisa mungkin, jurnalis menulisnya dengan sederhana.

Ternyata, ada sejumlah alasan yang mendorong munculnya ragam bahasa jurnalistik. Pertama, pekerjaan jurnalis umumnya berpacu dengan waktu. Mereka dituntut dapat menghasilkan berita atau tulisan dengan cepat.

Kedua, panjang berita atau tulisan dibatasi, baik dalam halaman media cetak atau pada situs web. Ketiga, kebutuhan untuk memikat pembaca kian tinggi karena makin banyaknya media yang muncul. Artinya, jurnalis harus menghasilkan berita atau tulisan yang tidak bertele-tele, tetapi tetap membuat pembaca bertahan menyimak hingga akhir. Keempat, bahan berita atau tulisan seorang jurnalis merupakan data yang sesungguhnya terjadi atau fakta. Dengan demikian, mereka tidak perlu menghias tulisannya secara berlebihan seperti pada karya sastra.

Ragam bahasa jurnalistik memang menarik untuk diulik dalam penulisan berita. Ini juga berlaku pada siaran pers, khususnya jika siaran pers tersebut diharapkan dapat dimuat sebagai berita oleh jurnalis. Pilihan kata dan penggunaan ragam bahasa yang tepat ternyata menjadi kunci penyajian berita yang menarik.

Kerabat Nara, informasi lebih lanjut mengenai penulisan berita dan siaran pers kini bisa disimak secara langsung dalam Kelas Daring Praktis (KDP) Penulisan Berita dan Siaran Pers, lo. Kelas ini akan diampu oleh jurnalis profesional, Asep Wijaya.

Silakan lakukan pendaftaran melalui sinara.narabahasa.id, ya, Kerabat Nara. Mari, kita bergabung dengan Kang Asep untuk mengupas proses terbitnya sebuah berita. Sampai jumpa pada kelas daring nanti!