Kebiasaan saya pada waktu pagi adalah membaca buku. Setelah menyarap, saya akan membaca sambil minum kopi. Saya bakal membaca novel, kumpulan cerpen, puisi, atau buku nonfiksi, seperti sejarah atau antologi esai. Sebagai seorang yang setiap harinya berkutat dengan tulisan, saya butuh bahan bakar. Jika tidak membaca, rasanya saya akan kesulitan untuk menulis.

Dari kebiasaan ini, saya secara tidak sadar menyerap berbagai macam gaya penulisan. Bahkan terkadang, saya terinspirasi langsung untuk membuat tulisan dengan pendekatan tertentu setelah membaca karya orang lain. Saya pun membiasakan diri untuk membuka kamus ketika menemukan kata yang tidak saya mengerti. Setelah itu, saya akan mencatat kata-kata tersebut dalam buku harian, judulnya “Kata Hari Ini”. Harapannya, saya bisa menggunakan mereka dalam karya saya sendiri, suatu saat nanti.

Pada 11 April 2020, misalnya. Waktu itu, saya sedang membaca novel Senopati Pamungkas (1986) karya Arswendo Atmowiloto. Saya mencatat kata-kata sebagai berikut.

kadut -> karung

kedung -> lubuk

mengegos -> mengelak dari serangan

mengempos -> mengembus

onak -> kesulitan

meluku -> membajak (sawah)

sungsang-sumbal -> jungkir balik, tunggang langgang

Kemudian, pada 9 Mei 2020, ketika saya sedang membaca Pulang (1958) karya Toha Mohtar, saya menemukan kata-kata di bawah ini.

cikar -> kereta beroda dua yang ditarik kuda, lembu, atau kerbau

teratak -> dangau, gubuk

jisim -> jasad

tintir -> lampu minyak tanah

Saya selalu mencatat kata-kata baru yang saya temukan dalam sebuah karya sastra. Ketika saya sedang menulis, saya akan membuka catatan “Kata Hari Ini”. Tidak jarang, satu kata saja mampu mendorong saya untuk merangkai satu kalimat penuh. Kadang kala, saya menggunakan catatan tersebut untuk perbendaharaan sinonim. Alhasil, saya terhindar dari rasa bosan dalam menggunakan diksi yang itu-itu saja.

Bagi saya, cara yang paling menyenangkan untuk memperkaya perbendaharaan kata adalah dengan rajin membaca karya sastra. Meskipun berita, sejarah, esai-esai, dan penelitian ilmiah juga menarik untuk dibaca, saya rasa, karya sastra lebih mampu mengubrak-abrik emosi kita. Kadang, kita berempati terhadap tokoh idaman yang harus mati demi kelangsungan cerita. Kita pun bertanya-tanya, mengapa karakter yang bengis ini masih bertahan hidup sampai akhir bab? 

Itu baru dari segi penokohan. Kita belum berbicara soal alur, tema, dan lain sebagainya yang turut menarik kita untuk terus-menerus membaca. Lebih dari itu, karya sastra mampu mengajak kita untuk rehat sejenak dari realitas yang menjemukan dan tenggelam ke dalam semesta yang lain, dunia rekaan yang penuh dengan kontemplasi. Maka tidak heran, pembaca mampu menghabiskan puluhan dan ratusan, bahkan menamatkan satu buku sastra dalam sehari.

Apabila kegiatan membaca diiringi dengan kemauan untuk mencatat, saya jamin, perbendaharaan kata di dalam diri kita akan senantiasa melipat ganda.

 

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Harrits Rizqi