Sebelumnya, saya sudah sempat membahas tulisan yang mengandung argumentasi. Berdasarkan jenis pemaparannya, sebuah wacana dapat bersifat argumentatif. Wacana argumentatif adalah wacana yang memiliki kekuatan argumentasi karena didukung oleh pembuktian dan disusun dengan sistematis.

Sementara itu, dalam pengembangan tulisan, gaya atau ekspresi pengungkapan argumentatif dapat diterapkan guna mengusir kejemuan pola menulis. Contoh tulisan argumentatif  adalah penelitian ilmiah, esai populer, dan rubrik editorial.

Kali ini, saya akan mengajak Kerabat Nara sekalian untuk memahami tulisan argumentatif lebih jauh lagi. Gorys Keraf (2007) menyatakan bahwa tulisan argumentasi wajib memuat tiga bagian, yakni pembukaan, tubuh, dan kesimpulan. Sebagaimana jenis tulisan lainnya, tentu tiga bagian ini tidak lagi asing di telinga kita. Namun, dalam wacana argumentasi, apa saja yang sebaiknya termuat dalam setiap bagian tersebut?

 

Pembukaan

“Suatu kesalahan yang sering dilakukan oleh penulis-penulis baru adalah menganggap pembaca telah mengetahui sebagian besar dari persoalan yang akan dibicarakan,” tulis Keraf dalam bukunya. Menurut beliau, ada baiknya penulis menjelaskan pokok permasalahan dengan cara yang sederhana sehingga tulisan dapat dinikmati oleh banyak kalangan. 

Pertama-tama, penulis dapat mengambil contoh keseharian yang bersinggungan dengan topik pembahasan. Selain dapat menarik perhatian pembaca, cara ini dapat menyiratkan betapa pentingnya suatu topik untuk dibahas. Barulah setelah itu penulis menyertakan latar belakang historis topik agar pembaca berada dalam satu taraf pengetahuan yang sama dengan kita.

Setelah itu, kita bisa menjelaskan sedikit lingkup pembahasan yang akan dituangkan dalam tulisan beserta metode dan pendapat ahli yang digunakan. Dengan demikian, pembaca dapat mengetahui secara sekilas tentang tulisan argumentatif kita.

 

Tubuh Argumen

Bisa dikatakan, tubuh argumen adalah tempat yang paling tepat untuk mengemukakan opini kita sebagai penulis dengan cara yang implisit. Tulisan argumentasi berupaya meyakinkan pembaca melalui apa-apa yang kita sajikan.

Untuk dapat memercayai tulisan kita, pembaca membutuhkan bukti atau evidensi–dalam bahasa Keraf. Di sinilah kita bertugas untuk menyeleksi fakta yang dibutuhkan, berpikir secara kritis dan sistematis, menyertakan observasi lapangan dan hasil riset, atau menyampaikan hasil wawancara. Lebih dari itu, kumpulan data tersebut sebaiknya disampaikan dengan cukup atau tanpa dilebih-lebihkan dan melalui alur yang mengalir.

 

Ringkasan dan Kesimpulan

Ringkasan dan kesimpulan adalah penutup sebuah tulisan. Beberapa dari kita mungkin sudah mahir menggarap bagian ini. Namun, ada satu pesan dari Keraf yang menurut saya bagus sekali. Beliau mengingatkan, “ … pengarang harus menjaga agar konklusi yang disampaikannya tetap memelihara tujuan, dan menyegarkan kembali ingatan pembaca tentang apa yang telah dicapai, dan mengapa konklusi-konklusi itu diterima sebagai sesuatu yang logis.”

Saat ini, tulisan argumentatif apa yang sedang Kerabat Nara susun? Semoga artikel ini dapat sedikit membantu, ya!

 

Rujukan: Keraf, Gorys. 2007. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin