Wacana adalah satuan bahasa yang terlengkap dan tertinggi dalam tataran bahasa. Setiap tulisan yang kita baca, baik itu novel, berita, maupun laporan merupakan sebuah wacana. Dapat dibilang, dalam keseharian, kita bersentuhan dengan suatu wacana.

Dalam tulisan “Jenis-Jenis Wacana”, saya telah menjelaskan bahwa wacana dapat digolongkan berdasarkan lima segi, yaitu fungsi bahasa, saluran komunikasi, tanggapan petutur atau pembaca, peserta komunikasi, dan pemaparan. Segi yang terakhir, menurut saya, merupakan klasifikasi yang menarik untuk disorot lebih jauh, terutama pemaparan wacana naratif.

Wacana naratif adalah wacana yang memiliki alur, peristiwa, dan tokoh. Lebih dari itu, unsur latar pun, saya rasa, juga ikut berperan dalam penyusunan wacana naratif. Apa itu alur, tokoh, dan latar? Untuk menjelaskan hal ini, saya memanfaatkan salah satu buku yang direkomendasikan oleh para dosen saya semasa kuliah dulu, yakni Memahami Cerita Rekaan (1988) karya Panuti Sudjiman. Alur adalah peristiwa yang tersusun secara kronologis. Sementara itu, tokoh adalah adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berkelakuan dalam berbagai peristiwa dalam cerita. Kemudian, latar adalah tempat, waktu, dan suasana terjadinya peristiwa. 

Kita barangkali beranggapan bahwa wacana naratif hanya dapat ditemukan pada karya fiksi. Pada kenyataannya, selain bisa kita temukan pada karya fiksi, unsur-unsur di atas juga terdapat dalam karya nonfiksi, seperti berita khas (feature). Coba lihat dua paragraf pembuka berikut.

Siang di akhir pekan itu, Zulaikha tengah duduk santai di kursi plastik miliknya yang berwarna merah muda. Raut wajahnya terlihat lelah dan tatapannya sedikit menerawang penuh kekosongan.

Tak lama berselang, ia buka suara; menceritakan pengalamannya menghadapi banjir yang menerjang tempat tinggalnya di Johar Baru, Jakarta Pusat pada awal tahun ini.

Sekilas, kita mungkin beranggapan bahwa tulisan tersebut merupakan cerpen atau novel. Namun, tulisan yang berjudul “Bagaimana Warga Johar Baru Bertahan di tengah Banjir & Tawuran” itu merupakan karya jurnalistik, sebuah berita khas mengenai cara masyarakat di Johar Baru bertahan dari bencana banjir dan fenomena tawur. Zulaikha adalah tokoh nyata, bukan individu rekaan seperti yang dipaparkan Sudjiman. Peristiwa dan latarnya pun riil.

Seorang penyair, Amarzan Loebis, juga pernah bilang bahwa kutipan, perspektif, humor, dan analisis atas fakta dapat pula berdiri sebagai unsur-unsur berita khas. Dengannya, sebuah berita dapat terkemas dengan penulisan yang mengalir dan menarik, tanpa perlu mengesampingkan aspek asdikamba (apa, siapa, di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana).

#wacana #naratif

Rujukan:

 

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin