Sudah pernah saya jelaskan bahwa wacana merupakan kesatuan makna (semantis) antarbagian di dalam suatu bangun bahasa yang terbesar dan terikat pada konteks. Dalam wacana tulis, kita akan menemui bagian pembuka, isi, dan penutup yang disusun secara terstruktur. Pertanyaannya, apakah wacana lisan juga memiliki struktur seperti itu?

Memang, ketika berbicara di depan umum, entah melakukan presentasi, menyajikan laporan, atau berpidato, ada baiknya kita menyiapkan materinya secara sistematis. Dengan demikian, informasi yang kita utarakan dapat tersampaikan dengan jelas. Namun, saat bercengkerama sehari-hari, kita mungkin sering berujar secara spontan. Dalam perbincangan santai, rasa-rasanya ujaran mengalir begitu saja. Ah, atau jangan-jangan, kita tidak sadar bahwa ternyata ada kebiasaan yang kita terapkan ketika sedang berujar.

Henry Guntur Tarigan, seorang ahli bahasa, menulis satu buku lengkap mengenai wacana berjudul Pengajaran Wacana (2021). Di sini, Tarigan mengumpulkan pemaparan terdahulu tentang struktur wacana lisan. Satu bagian yang menarik perhatian saya adalah tindak, yaitu level terbawah pada struktur wacana lisan yang sering kali berdiri sebagai pembuka ujaran. Saya rasa, kita pasti pernah menerapkan tindak yang mencakup

  1. penanda (marker) yang sering kali diwakili oleh kata eh, nah, yah, baik, dan oke sebagai pembuka tindakan/ujaran;
  2. panggilan (summon) yang terjadi ketika kita memanggil nama petutur sebelum membuka topik ujaran, seperti Ryan! Sedang apa?;
  3. permintaan metastatement yang acap dilakukan untuk menarik perhatian petutur lewat sebuah permintaan, seperti Saya mau bertanya satu hal penting kepadamu;
  4. permisi-setuju yang bertujuan meneruskan suatu topik melalui pertanyaan, seperti Kamu tahu, kan, apa akibat dari semua ini?;
  5. salam yang kerap disampaikan untuk membuka ujaran, seperti selamat pagi dan selamat datang;
  6. permohonan maaf yang sering diucapkan untuk membuka topik, seperti Maaf mengganggu, saya mau bertanya; serta
  7. informasi dan komentar yang dapat diperluas menjadi kalimat utuh yang biasanya diucapkan sebagai pembuka pidato atau ceramah, seperti Para pahlawan telah berjuang mengusir penjajah dari tanah ini. Jasa mereka tidak akan pernah terlupakan. Maka dari itu, sebelum memulai acara ini, mari kita hening sejenak dan melantunkan doa bagi para pejuang Indonesia.

Saya pun baru ingat, saya sering kali membuka sebuah obrolan dengan memanggil nama petutur. Pada kesempatan lain, saya juga memanfaatkan penanda, seperti Jadi, ke mana kita hari ini? Lalu, apabila saya merasa mengganggu, saya akan memulai percakapan dengan kata maaf.

Ternyata, wacana lisan juga memiliki struktur pembuka yang tercermin lewat perilaku keseharian kita. Apakah Kerabat Nara punya cara lain untuk mengawali obrolan?

#wacanalisan #tindak

Rujukan:

  • Kushartanti, dkk. (ed). 2005. Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.
  • Tarigan, Henry Guntur. 2021. Pengajaran Wacana. Bandung: Penerbit ANGKASA.

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin