Orang tua berperan dalam pertumbuhan seorang anak. Kita tahu, anak-anak membutuhkan perlindungan dan bimbingan dari orang tua. Singkat kata, orang tua adalah tokoh imitasi dan dan pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. (Santoso [2011] dalam Anggraini [2020]).

Lebih dari itu, perkembangan bahasa pada anak-anak juga dipengaruhi oleh pola asuh orang tua. Faktanya, kandungan yang berusia tujuh bulan sudah bisa berbahasa, yakni pada tahap pendengaran. Bayi di dalam rahim mampu membedakan suara manusia.

Setelah lahir, perkembangan bahasa pada anak-anak dapat dibagi menjadi tiga fase besar. Pada fase pertama, yaitu hingga berusia enam bulan, bayi bisa mengidentifikasi suara ritmis, membedakan suara orang berbicara dengan suara tepukan, dan mengeluarkan suaranya sendiri. Lalu, pada fase kedua, yaitu pada usia delapan sampai delapan belas bulan, anak mampu mengasosiasikan kata-kata pada pengalaman sehari-hari, menyematkan makna, dan mulai menggunakan kosakata tertentu. Setelah itu, pada fase ketiga (usia dua hingga lebih dari tiga tahun), anak sudah mulai berujar lewat kalimat taklengkap.

Selama mengalami tiga fase tersebut, orang tua memiliki andil yang besar untuk membimbing anak dalam berbahasa. Anggraini dalam “Peranan Orang Tua dalam Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini” mengungkapkan langkah-langkah yang bisa orang tua terapkan guna mengasah keterampilan berbahasa sang anak:

  1. mengenalkan kata sapaan yang baik, seperti Ayah, Ibu, Nenek, dan Kakek;
  2. melatih pengucapan ungkapan yang sederhana, seperti terima kasih dan tolong;
  3. mengenalkan nama-nama benda di sekitar, seperti sendok, baju, dan sepatu;
  4. membacakan cerita untuk mengasah kemampuan menyimak; serta
  5. menerapkan pola asuh yang kondusif sehingga anak berani untuk berimajinasi dan berekspresi.

Apakah setelah melewati usia dini, seorang anak tidak lagi membutuhkan binaan berbahasa dari orang tua? Saya rasa tidak. Permono dalam tulisannya menyatakan, “Peran orang tua dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak sangat penting, salah satunya mengajarkan cara berbahasa dalam pergaulan sehari-hari kepada anak.” Saat duduk di bangku sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, saya kerap kali dimarahi Ibu ketika berujar dengan kata-kata kasar terhadap teman sebaya. Saya pun belajar sopan santun berbahasa dari Ayah.

Akan tetapi, saya tahu tidak semua orang tua mampu memberikan penyuluhan bahasa kepada anak-anaknya. Apabila ayah dan ibunya sering berkata kasar, coba bayangkan bahasa macam apa yang akan melekat pada memori sang anak? Bahkan nada-nada tinggi yang melambangkan amarah pun bisa membekas dalam benak anak. Orang tua sering kali khilaf dan melampiaskan amarahnya dengan umpatan. Sang anak lantas harus mendengarkan dan menyimpannya sebagai kenangan pahit, bahasa yang menakutkan. Semoga saja, kita dapat memutus rantai tersebut.

#bahasaanak

Rujukan:

  • Anggraini, Nofita. 2020. “Peranan Orang Tua dalam Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini”. Metafora: Jurnal Pembelajaran Bahasa Dan Sastra, Vol. 7, No. 1, Oktober, hlm. 43–54. Purwokerto: Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
  • Bainbridge, Carol. 2021. “How Do Children Learn Language?”. Verywell Family. Diakses pada 9 November 2021.
  • Permono, Hendarti. 2013. “Peran Orangtua dalam Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak untuk Membangun Karakter Anak Usia Dini”. Prosiding Seminar Nasional Parenting 2013. Surakarta: 1 Juni 2013, hlm. 34–47.

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin