Aan Mansyur, seorang penyair, pernah menganalogikan puisinya sebagai sebuah rumah. Saya lupa, entah pada akun Twitter-nya atau dalam sebuah sesi diskusi beliau berpendapat demikian. Analogi itu bikin saya manggut-manggut setuju sebab puisi-puisi Aan Mansyur memang terkesan seperti rumah dengan ruang tamu yang sederhana dan nyaman serta ruang tengah yang kaya akan permainan metafora. Setelahnya, saya sebagai pengunjung akan pulang dengan perasaan yang kenyang.

Bagi saya, bukan cuma puisi yang bisa diibaratkan sebagai rumah. Tulisan nonfiksi pun mampu disajikan dengan eksterior dan interior yang menarik. Seperti yang pernah saya tuliskan pada “Paragraf Pembuka: Sebuah Ruang Tamu”, paragraf pembuka mempunyai peran penting untuk mengundang pembaca. Namun, setelah itu, apa?

Tentu kita akan memasuki inti permasalahan dalam sebuah tulisan lewat paragraf isi. Di sini, tertuang pemikiran sang penulis mengenai suatu hal. Perlu diketahui juga bahwa inti tulisan bisa disajikan lewat beberapa paragraf isi. Ada yang berperan sebagai pengembang dan peralihan atau transisi. Paragraf pengembang umum dimanfaatkan untuk menguraikan, mendeskripsikan, membandingkan, menghubungkan, menjelaskan, atau menerangkan pokok pikiran. Selain itu, menolak, mendukung, membuktikan, mencontohkan, dan memperincikan sebuah konsep juga termasuk ke dalam peran paragraf pengembang. Pada sisi lain, paragraf transisi biasanya dituliskan dengan baris-baris yang lebih pendek. Fungsinya untuk memudahkan pikiran pembaca ketika beralih menuju gagasan lain.

Sebagaimana ruang tengah—yang sering juga dikatakan sebagai ruang keluarga—paragraf isi menawarkan sesuatu yang sifatnya lebih mendalam, lebih privat daripada ruang tamu. Ada area untuk menonton televisi, meja makan yang berdekatan dengan dapur, bilik tempat mandi, dan sebagainya.

Segala perbincangan yang terjadi di ruang tamu dan ruang tengah lantas diakhiri pada paragraf penutup. Cara-cara yang dapat dipraktikkan untuk menutup sebuah tulisan adalah dengan menegaskan tesis, meringkas gagasan-gagasan penting, dan memberikan kesimpulan, saran, atau proyeksi masa depan. Dengan demikian, pembaca bisa pamit dari rumah kita dengan wawasan baru.

Itu adalah sedikit imaji yang tumbuh di kepala saya ketika membayangkan tulisan sebagai sebuah rumah. Sekarang ini, harga rumah begitu mahal, apalagi di Jakarta. Saya belum memiliki rumah ideal seperti ilustrasi di atas. Namun, satu hal yang saya tahu, setiap ruangan memiliki fungsinya sendiri-sendiri. Setiap dekorasi punya makna. Lalu, yang terpenting, adalah kegetolan tuan rumah dalam merawat dan membersihkan sehingga rumahnya terasa menawan. Kreativitas dalam memanfaatkan tiap sudut muncul seiring berjalannya waktu. Barangkali, proses tersebut juga berlaku dalam menulis.

#paragraf #linguistikumum

Rujukan:

Suladi. 2015. Seri Penyuluhan Bahasa Indonesia: Paragraf. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin