Beberapa hari lalu saya membaca Polemik Kebudayaan: Pergulatan Pemikiran Terbesar dalam Sejarah Kebangsaan Indonesia (Balai Pustaka, cet. IV, 2008), sebuah diskursus pada awal abad ke-20 tentang nilai-nilai yang sepatutnya diimplementasikan untuk membangun bangsa Indonesia. Dalam buku yang merupakan kumpulan tulisan dari beberapa surat kabar dan majalah itu, Sutan Takdir Alisjahbana beradu gagasan dengan sejumlah tokoh, seperti Sutomo, Sanusi Pane, Purbatjaraka, dan Ki Hadjar Dewantara. Menurutnya, Indonesia perlu meniru Barat dari segi intelektualisme, individualisme, egoisme, dan materialismenya (empat –isme). Hal tersebut menjadi pokok perdebatan yang menarik karena tiap penulis menyampaikan pandangannya dengan gamblang dan elegan. Kegamblangan diwujudkan dengan argumentasi yang mendetail, sedangkan keeleganan tergambar dengan cara pengungkapan yang tidak menyinggung personalitas lawan dan, yang sangat saya kagumi, “dibumbui” dengan analogi.

Kita bisa menyimak contoh analogi pada halaman ke-49 dalam tulisan “Semboyan yang Tegas” oleh Sutan Takdir Alisjahbana.  Di situ ia menganalogikan kecemasan dan ketakutan para lawan debatnya dalam menyikapi empat –isme tadi dengan orang yang tidak berani melewati jalan raya. Begini tulis Alisjahbana.

“Justru kecemasan dan ketakutan kita itu akan besar bahayanya jika kita menjadi seorang yang tak berani berjalan di jalan raya, sebab takut digilas mobil. Karena cemas dan takut risiko berjalan di jalan raya itu, lalu menempuh jalan hutan dan akibatnya tertinggal di belakang.”

Tidak hanya itu, tepat pada paragraf selanjutnya, Alisjahbana menulis analogi lain yang dasar masalahnya sama dengan yang sebelumnya: kecemasan dan ketakutan untuk mengambil risiko. Katanya, “Dalam segala sesuatu akan ada risikonya, ada yang kurang enak dan kurang baiknya. Orang yang hendak memakan mangga enak harus memetiknya dengan kulitnya yang pahit rasanya. Siapa yang tak mau menerima kulitnya ia tak akan merasakan nikmatnya daging mangga yang nyaman itu.” Cukup manis, ‘kan, analogi yang digunakannya?

Pada halaman ke-123, kita dapat menemui kembali sebuah analogi. Penulisnya masih sama, yaitu Sutan Takdir Alisjahbana. Tulisan yang memuat analogi ini berjudul “Synthese antara Barat dan Timur”.

Dalam tulisan tersebut, Alisjahbana membalas kritik Adinegoro—yang sebelumnya mengkritik pandangan Alisjahbana. Adinegoro mengatakan bahwa masalah empat –isme bukan hanya masalah bangsa Indonesia, melainkan masalah umum. Alisjahbana pun mengetahui itu. Namun, menurutnya, tiap bangsa mempunyai masalah yang khas. Ia lantas membuat sebuah analogi berikut.

“Agar menjadi jelas, sebaiknya kita pakai analogi sederhana. Bangsa Indonesia sekarang harus memasak nasi. Yang perlu dilakukan pertama adalah menghidupkan api. Bagi bangsa Barat nasi itu sudah masak, api pun sudah menyala. Masalahnya bagi Barat adalah bagaimana menjaga supaya nasi tidak hangus. Demikian pula, bagi Barat bukan masalah membesarkan api, tapi bagaimana mengecilkan api.”

Seakan masih belum puas beranalogi, Alisjahbana meneruskannya pada paragraf selanjutnya. Katanya, “Kalau bangsa Indonesia sekarang harus berpikir keras, bagaimana mengecilkan api (baca: intelektualisme, individualisme, egoisme, materialisme). Maka yang saya takuti nasi Indonesia tak pernah bisa masak, sebab apinya pun tidak pernah hidup.”

Berdasarkan analogi-analogi di atas, dapat kita perhatikan bahwa objek yang digunakan oleh Sutan Takdir Alisjahbana merupakan hal yang dekat dengan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Melewati jalan raya, memakan mangga, dan memasak nasi, bukankah itu semua aktivitas yang mudah kita jumpai atau bahkan kita alami sendiri? Dengan mengambil contoh yang dekat, Alisjahbana membuat pembaca tulisannya mampu memahami persoalan yang sedang dibahasnya dengan lebih mudah.

Kita pun dapat membumbui tulisan—dan juga ucapan—kita dengan analogi agar lebih elegan dan mudah dipahami pembaca. Memang tidak semua jenis tulisan harus diselipi analogi, misalnya tulisan laras ilmiah. Selain itu, membuat analogi juga bukan hal yang mudah. Akan tetapi, jika jenis tulisan yang kita buat memungkinkan untuk disertai analogi dan kebetulan pikiran kita sedang tokcer, serta maksud kita ialah memudahkan pemahaman pembaca, mengapa tidak?

Soal mendapatkan objek analogi yang tepat, itu memang perlu dilatih. Namun, yang paling mudah adalah memanfaatkan hal yang dekat dengan kita, sebagaimana yang dicontohkan oleh Sutan Takdir Alisjahbana. Misalnya, kita dapat menganalogikan perkembangan manusia dengan sebuah tanaman. Agar tumbuh dengan baik, tanaman perlu kita rawat. Kita pun harus sabar merawatnya karena ia tidak berbuah dalam sehari. Manusia pun begitu. Ia perlu dirawat dengan penuh kesabaran.

Jadi, yang pertama-tama harus kita lakukan untuk beranalogi adalah satu: mengamati sekitar.

 

Penulis : Harrits Rizqi

Penyunting : Ivan Lanin