Lini masa media sosial hari ini selalu ramai dengan konten meme. Bahkan, dari pengamatan saya, ada saja meme baru pada setiap harinya. Tidak jarang juga, meme lama diproduksi ulang melalui visual yang sama, tetapi dengan kutipan yang baru.

Kata meme diduga pertama kali dicetuskan oleh Richard Dawkins, seorang penulis dan ahli etologi serta ilmu pengetahuan umum asal Britania Raya. Meme dipadankan dari bahasa Yunani, yakni mimeme dan gene. Apabila dikombinasikan, keduanya membentuk makna ‘cultural gene’. Dalam “From Kilroy to Pepe: A Brief History of Memes”, Lennlee Keep (2020) menyatakan bahwa Dawkins menganggap meme sebagai unit informasi budaya (cultural units of information). 

Anggapan Dawkins ini sejalan dengan definisi meme dalam Merriam-Webster. Terdapat dua makna di sana, yakni (1) an idea, behavior, style, or usage that spreads from person to person within a culture dan (2) an amusing or interesting item (such as a captioned picture or video) or genre of items that is spread widely online especially through social media. Pengertian serupa terdapat dalam KBBI V yang mencatat lema meme sebagai ‘ide, perilaku, atau gaya yang menyebar dari satu orang ke orang lain dalam sebuah budaya’ dan ‘cuplikan gambar dari acara televisi, film, dan sebagainya atau gambar-gambar buatan sendiri yang dimodifikasi dengan menambahkan kata-kata atau tulisan-tulisan untuk tujuan melucu dan menghibur’.

Ada makna lucu dan menghibur dalam meme. Apakah hanya itu tujuan meme? Sepertinya tidak. Saya membaca sebuah esai berjudul “Bahasa Meme: Bahasa Kritik Milenial” yang ditulis oleh Ahmad Abu Rifai. Tulisan tersebut dimuat dalam sebuah antologi esai pada 2019. Rifai mengutip pernyataan Daniel Dennett, seorang penulis dan ilmuwan kognitif asal Amerika Serikat. Bagi Dennett, meme adalah bagian dari evolusi kebudayaan.

Kerabat Nara mungkin pernah melihat meme Nurhadi-Aldo yang muncul pada masa pemilu. Selain itu, saya kira kita juga familier dengan meme berkutipan “Piye? Enak jamanku, toh?” Kedua meme tersebut bersinggungan erat dengan ranah politik. Terlebih, di Twitter, meme Tintin dan Kapten Haddock selalu diunggah pada hari Rabu: “What a week, huh?” tanya sang kapten. Tintin membalas, “Captain, it’s Wednesday.” Sekilas, meme Tintin dan Kapten Haddock terkesan lucu. Namun, saya lamat-lamat merasa terwakili. Pada hari Rabu, saya ingin cepat-cepat berakhir pekan. Barangkali beberapa dari kita yang merasa lelah dengan pekerjaan dan tuntutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari juga merasa terwakili dengan meme Tintin tersebut.

Saya mengamati bahwa tujuan meme bukan hanya untuk menghibur audiens. Meme juga tidak selalu memuat kritik dengan gamblang. Lebih dari itu, meme mengandung ironi, sinisme, sarkasme, atau satire yang mencerminkan sebuah fenomena di suatu tempat. Adakalanya, sajian bahasa dan tampilan visual dalam meme mencerminkan keluh kesah, aspirasi, dan perasaan banyak orang. Mungkin ke depannya, ketika jurnalisme dan sastra dibungkam, meme yang akan angkat bicara.

#meme

 

Rujukan:

  • Keep, Lennlee. 2020. “From Kilroy to Pepe: A Brief History of Memes”. Independent Lens. Diakses pada 17 Januari 2022.
  • Wahyuni, Sri dan Aji Endro Nugroho Wasono. (ed). 2019. Bahasa Meme: Bahasa Kritik Milenial. Semarang: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Balai Bahasa Jawa Tengah.

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin