Berdasarkan ciri semantisnya, adjektiva dapat digolongkan menjadi bertaraf dan takbertaraf. Adjektiva bertaraf—misalnya cinta dan benci—memiliki tingkat kualitas dan tingkat pembandingan yang dapat diberi pewatas tingkat, seperti agak, makin, dan paling. Sebaliknya, adjektiva takbertaraf, seperti abadi dan sah, memiliki taraf yang mutlak meski penutur kadang tetap membubuhkan pewatas tingkat pada adjektiva jenis ini. Pemberian taraf atau tingkat itu khas dimiliki adjektiva dan menjadi pembeda dengan kelas kata lain.

Kualitas

Adjektiva dapat dibagi menjadi enam berdasarkan kualitasnya, yaitu (1) tingkat positif, (2) tingkat atenuatif, (3) tingkat augmentatif, (4) tingkat intensif, (5) tingkat elatif, dan (6) tingkat eksesif.

Tingkat positif merupakan tingkat kualitas standar adjektiva. Pemakaian pewatas tidak atau tak menunjukkan ketiadaan kualitas yang dinyatakan adjektiva itu. Contoh:

  1. Hatiku tenang ketika berada di sampingmu.
  2. Objek wisata itu ramai dikunjungi wisatawan.
  3. Mobil itu tidak cepat.

Tingkat atenuatif menggambarkan penurunan kualitas atau pelemahan intensitas dengan pewatas agak atau sedikit. Untuk warna, tingkat atenuatif dinyatakan dengan pemberian imbuhan ke–an pada reduplikasi adjektiva. Contoh:

  1. Meski agak sedih, aku tetap tersenyum.
  2. Ia sedikit kecewa mendengar penjelasan sahabatnya.
  3. Langit senja berwarna kemerah-merahan.

Tingkat augmentatif menggambarkan peningkatan kualitas dengan pewatas makin atau kian. Kedua pewatas itu dapat dipakai berpasangan dalam bentuk makin … makin … atau kian … kian …. Contoh:

  1. Aku makin percaya kepadamu.
  2. Lalu lintas di Jakarta (kian hari) kian padat.
  3. Gadis itu makin besar makin cantik.

Pada bentuk berpasangan, seperti pada contoh nomor 2 di atas, frasa adjektival pertama (kian hari) dapat dihilangkan jika frasa itu menyatakan waktu.

Tingkat intensif menegaskan kualitas dengan pewatas benar, betul, atau sungguh. Pewatas benar dan betul dipakai sebelum adjektiva yang diwatasi, sedangkan sungguh sebelumnya. Contoh:

  1. Dia gemar benar bermain media sosial.
  2. Pencuri itu kencang betul larinya.
  3. Penampilannya sungguh mengagumkan.

Tingkat elatif menunjukkan kualitas yang tinggi dengan pewatas amat, sangat, dan sekali. Pewatas amat dan sangat terletak sebelum adjektiva, sedangkan sekali terletak setelah adjektiva. Contoh:

  1. Petugas memeriksa pengunjung dengan amat cermat.
  2. Pengusaha itu sangat kaya.
  3. Ibu senang sekali menerima kedatangan kami.

Tingkat eksesif menggambarkan kualitas yang berlebihan dengan pewatas terlalu dan terlampau. Imbuhan ke–an juga dapat dipakai untuk menunjukkan tingkat eksesif. Contoh:

  1. Kamu terlalu baik untukku.
  2. Masalah hidupnya terlampau sulit untuk diselesaikan.
  3. Bajuku sudah kekecilan sehingga kuberikan kepada adikku.

Keenam tingkat kualitas adjektiva tersebut dapat diingat dengan jembatan keledai sambat (standar, agak, makin, benar, amat, terlalu).

Pembandingan

Tingkat pembandingan diterapkan ketika membandingkan kualitas dua atau lebih hal. Pembandingan itu dapat setara atau taksetara. Tingkat yang setara disebut tingkat ekuatif, sedangkan yang taksetara dapat berupa tingkat komparatif dan tingkat superlatif.

Tingkat ekuatif menggambarkan kualitas yang sama atau hampir sama. Tingkat ini diwujudkan dengan empat bentuk, yaitu (1) se-, (2) sama + -nya + dengan, (2) sama + -nya, dan (4) sama-sama. Dua bentuk yang pertama dipakai di antara hal yang dibandingkan, sedangkan dua bentuk yang terakhir dipakai setelah hal yang dibandingkan. Contoh:

  1. Aku berlari secepat Amir.
  2. Aku berlari sama cepatnya dengan Amir.
  3. Aku dan Amir berlari sama cepatnya.
  4. Aku dan Amir berlari sama-sama cepat.

Tingkat komparatif menunjukkan kadar kualitas yang lebih atau yang kurang. Kedua pewatas itu dilengkapi oleh daripada atau jika dibandingkan dengan. Pembanding kurang dapat disulih dengan kalah. Contoh:

  1. Mobil lebih cepat daripada sepeda.
  2. Mobil lebih cepat jika dibandingkan dengan sepeda.
  3. Aku kurang/kalah cepat daripada sepeda.
  4. Aku kurang/kalah cepat jika dibandingkan dengan sepeda.

Tingkat superlatif menunjukkan yang paling tinggi di antara semua hal yang dibandingkan dengan memakai ter- atau paling sebelum adjektiva. Adjektiva itu kemudian dapat diikuti dari atau di antara. Contoh:

  1. Dia paling rajin (dari/di antara semua siswa).
  2. Mesin ini yang termurah (dari/di antara semua barang di toko itu).

Untuk adjektiva yang berawalan, pemberian awalan ter- umumnya terasa aneh, misalnya *terberbahaya atau *termengharukan. Untuk kasus itu, gunakan saja paling.

***

Kalau tingkat kualitas adjektiva dapat diingat dengan jembatan keledai sambat, tingkat pembandingan dapat dihafal dengan akronim salep (sama, lebih, paling). Ingat salep sambat untuk tingkat pertarafan adjektiva, ya.

 

Rujukan

Moeliono, Anton M., dkk. 2017. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi Keempat. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

 

Penulis: Ivan Lanin

Penyunting: Harrits Rizqi