Banyak kata berbahasa Inggris yang sudah dipadankan ke dalam kamus kita. Saya rasa, Kerabat Nara juga sudah mengetahui hal itu. Bahasa Indonesia kini mengenal kata twit, gap, bahkan diskoveri. Bisa dibilang, bahasa kita mendapatkan pengaruh yang cukup besar dari bahasa Inggris.

 

Fenomena terekamnya bahasa Inggris dalam KBBI, saya kira, tidak terpisahkan dari kebiasaan kita dalam mengakses informasi dan bermedia sosial. Tentu tidak asing lagi bagi kita untuk membaca dan menulis kalimat yang mencampur-campurkan bahasa. Beberapa orang melontarkan pendapat dengan sinis akan kebiasaan tersebut. Ketakutan terhadap hilangnya jati diri bahasa Indonesia pun bermunculan.

Sebuah opini yang ditulis oleh Iqbal Aji Daryono dalam laman Jawa Pos menarik perhatian saya. Artikel tersebut berjudul “Buat Apa Takut Imperialisme Bahasa?”. Menurut beliau, bahasa adalah produk budaya, fitrahnya luwes dan dinamis. Bahasa yang satu bisa memengaruhi dan dipengaruhi oleh bahasa lainnya. Mereka saling melengkapi dan tidak ada yang benar-benar asli. Ditambah lagi, pada era media sosial, batasan budaya makin membias.

“Ambil contoh, kenapa kata ‘manajer’ diserap? Kenapa bukan pengatur atau pengurus? Kenapa pula dari tadi saya menuliskan kata ‘era’, mulai era Marcopolo hingga era Pak Badudu, dan Anda merasa baik-baik saja? Bukankah itu kata serapan juga dari bahasa Inggris, sementara kita sudah mengenal kata ‘zaman’? Lagian, kenapa pula kita memakai kata ‘zaman’ yang serapan dari bahasa Arab, sedangkan kita sudah punya kata ‘masa’?

Demikian tulis Mas Iqbal.

Bagi saya, laku mencintai Indonesia memang mencakup menyayangi bahasa Indonesia. Namun, apabila saya lahir, tumbuh, dan berkewarganegaraan Inggris, saya pun akan mencintai bahasa Inggris. Saya giat berbahasa Indonesia lantaran saya berkomunikasi dengan orang Indonesia. Dengan menggunakan bahasa Indonesia, saya bisa mengerti permintaan Ibu, membantu teman yang sedang kesusahan, dan melamar pekerjaan untuk melanjutkan hidup. Lewat bahasa Indonesia—tentu juga termasuk kata-kata berbahasa Inggris yang sudah dipadankan—saya bisa merasa lebih hidup.

Menyerap bahasa Inggris, sebagaimana Mas Iqbal tuliskan, tidak akan menghancurkan karakter bahasa Indonesia, sama seperti celana jin dan setelan jas yang tidak menghapuskan jiwa keindonesiaan kita.

 

Rujukan:

  • Daryono, Iqbal Aji. 2019. “Buat Apa Takut Imperialisme Bahasa?”. Diakses pada 30 Juli 2021.
  • Munsyi, Alif Danya. 2003. 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin