Pada masa kuliah dulu, saya begitu gelagapan saat teman saya yang orang Arab bertanya cara melafalkan kata Allah dalam bahasa Indonesia. Ia bertanya demikian karena hendak membandingkan bunyi kata tersebut dengan bunyi dari bahasa sumbernya. Sebab, katanya, pengucapan kata Allah sangat berbeda jika dilafalkan dalam bahasa Inggris.

Dalam kondisi penuh kebingungan semacam itu, saya memutuskan untuk mencari kata tersebut dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Waktu itu, saya berharap kamus referensi tersebut mencantumkan juga cara pelafalan kata sebagaimana kamus rujukan bahasa Inggris, seperti Webster atau Oxford Dictionary. Namun, rupanya, tidak semua kata yang terdaftar dalam KBBI memiliki cara pelafalan kata atau lambang bunyi fonemis.

Akhirnya, alih-alih mengakui bahwa belum mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang disampaikannya, saya meresponsnya dengan mengatakan, “Sepertinya sama dengan bunyi bahasa sumbernya.” Jawaban asbun (asal bunyi) itu begitu saya sesali hingga kemudian pertanyaan serupa terlontar dari seorang pakar bahasa Indonesia yang menjabat Direktur Utama Narabahasa.

Kali ini, untuk merespons pertanyaan itu, saya terlebih dahulu berkesempatan membaca salah satu bab pada buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Bab yang saya baca menjelaskan tata bunyi atau fonologi dalam bahasa Indonesia. Di dalamnya, tertuang penjelasan tentang cara kata-kata dalam bahasa Indonesia dilafalkan. Berbekal pengetahuan dasar atas tata bunyi tersebut, saya memberanikan diri untuk merespons pertanyaan tentang cara melafalkan kata Allah dalam bahasa Indonesia.

Kata Allah terdiri atas fonem /a/, /l/, /l/, /a/, dan /h/. Vokal /a/, baik yang terletak pada urutan fonem pertama maupun keempat, dihasilkan dengan posisi lidah bagian tengah rendah dan bentuk bibir yang takbundar. Bunyinya seperti [a] pada anak dan kota.

 

Adapun konsonan /h/ dihasilkan dengan cara melewatkan arus udara di antara pita suara yang menyempit, tanpa dihambat di dalam rongga mulut. Jika dibunyikan, bunyi [h] pada kata Allah serupa dengan [h] pada kata murah.

Sedangkan untuk huruf konsonan rangkap ll pada kata Allah dibunyikan [l], yakni bunyi [l] yang berat. Ia dibentuk dengan menempelkan ujung lidah pada gusi seraya menaikkan belakang lidah ke langit-langit lunak.

Huruf konsonan rangkap ll dan pelafalannya merupakan pengecualian dalam tata bunyi bahasa Indonesia. Ia menjadi pengecualian dari sisi bentuk karena menurut kaidah ejaan, konsonan ganda yang diserap dari bahasa asing mesti menjadi konsonan tunggal, seperti kata accu menjadi aki dan effect menjadi efek. Namun, jika berpotensi membingungkan, konsonan rangkap pada bahasa sumber dapat dipertahankan, seperti kata ‘Allah menjadi Allah dan mass menjadi massa

Pelafalan [l] juga menjadi pengecualian dalam tata bunyi bahasa Indonesia karena gugus dan deret konsonan dalam bahasa Indonesia tidak ada yang terdiri atas fonem yang sama.

Meski begitu, penutur bahasa Indonesia boleh saja melafalkan kata Allah sebagaimana kata itu diucapkan dalam bahasa sumber saat membahas atau membincangkan pokok persoalan tentang keagamaan. Sebabnya, bahasa Indonesia mengenal ragam yang beraneka rupa. Di antaranya adalah ragam berdasarkan jenis pemakaian bahasa yang salah satunya seturut bidang yang sedang dibicarakan. 

Ah, semoga alternatif jawaban ini lebih berterima daripada respons pandir saya sebelumnya.

 

Rujukan:

Moeliono, Anton M., dkk. 2017. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

 

Penulis : Asep Wijaya

Penyunting : Harrits Rizqi