Dalam film pendek yang diadaptasi dari cerpen “Malaikat Juga Tahu” pada antologi cerpen Rectoverso karya Dee Lestari, tokoh Abang adalah seorang lelaki berusia 38 tahun yang mengidap autisme sehingga terdapat pola yang harus dijaga dalam kehidupannya, seperti mengoleksi seratus sabun mandi dan rutinitas untuk bercengkerama dengan seorang gadis yang indekos di rumahnya. Namun akhirnya, sang gadis lebih memilih pergi, mengabaikan secarik kertas bertuliskan “Seratus sempurna kamu satu lebih lebih sempurna” dari Abang.

Terlepas dari kejanggalan gramatikal pada kutipan tersebut, hal menarik yang perlu dikaji justru bagaimana dalam lisensi puitisnya, pengarang masih sanggup mempertahankan penulisan numeralia atau bilangan dengan baik dan benar. Sementara itu, setelah film tersebut dirilis, orang berbondong-bondong menulis di media sosial mereka dengan “100 sempurna, kamu 1 lebih lebih sempurna”. Padahal, bilangan seratus dalam kalimat aslinya ditulis dengan huruf sebab ia terdiri atas satu kata dan terletak di awal kalimat. Lalu, bagaimanakah kita dapat mempelajari cara menulis bilangan?

Dalam kaidahnya, terdapat tiga sistematika penulisan bilangan, yakni kapan bilangan ditulis dengan angka, kapan bilangan ditulis dengan huruf, dan kapan bilangan ditulis dengan angka dan huruf.

Penulisan Bilangan dengan Angka

Bilangan ditulis dengan angka ketika teksnya harus dinyatakan dengan lebih dari dua kata, disebut berurutan sebagai perincian, serta digunakan sebagai ukuran, nilai uang, nomor alamat, dan nomor bagian karangan atau ayat kitab suci. Secara ringkasnya, bilangan ditulis dengan bentuk angka untuk menghindari kerancuan dalam kalimat tanpa menghilangkan efektivitasnya. 

Penulisan Bilangan dengan Huruf

Bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf sehingga jika dalam suatu kondisi kebahasaan terdapat bilangan di awal kalimat yang ditulis dengan angka, susunan kalimatnya perlu diubah. Jadi, penulisan seratus sempurna dalam kutipan cerpen di atas sudah benar.

Bilangan juga ditulis dengan huruf saat dapat dinyatakan dalam satu atau dua kata dan digunakan sebagai unsur nama geografi. Penggunaan bilangan dalam unsur nama geografi ini dipelajari dalam toponimi dan umumnya terdiri atas elemen generik dan elemen spesifik. Ketika elemen spesifik diikuti dengan angka yang bukan bermakna penomoran, penulisannya menggunakan huruf dan digabung dengan kata sebelumnya.

Penulisan Bilangan dengan Angka dan Huruf

Bilangan dapat ditulis dengan angka dan huruf apabila menunjukkan bilangan besar, bilangan yang diberi imbuhan -an, serta bilangan dalam peraturan perundang-undangan, akta, dan kuitansi. Contohnya 250 miliar rupiah, tahun 1960-an, dan denda Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah). Secara spesifik, penggunaan angka dan huruf pada peraturan perundang-undangan diatur dalam Undang-Undang 11 Tahun 2011 untuk menghindari kekeliruan dan kecurangan. Alasan yang sama bisa kita terapkan pada penulisan bentuk angka dan huruf pada akta dan kuitansi.

 

Selain ketiga sistematika penulisan bilangan tersebut, selain angka Arab, kita juga mengenal sistematika penulisan bilangan dengan angka Romawi. Penggunaan angka Romawi lebih terbatas daripada angka Arab, mengingat penulisannya yang cenderung lebih rumit. Angka Romawi hanya digunakan untuk penulisan bilangan tingkat, seperti abad XX dan Perang Dunia II. Secara otomatis, kita umumnya menambahkan imbuhan ke- dalam pelafalannya sehingga abad XX disebut abad kedua puluh dan Perang Dunia II disebut Perang Dunia Kedua. Hal itu mungkin terjadi akibat penyerapan bahasa secara tidak sempurna yang mengiringi penggunaan angka Romawi dalam bahasa Indonesia.

Jika benar tidak ada yang sempurna di dunia ini, mungkin kita bisa memahaminya sebagai suatu upaya untuk terus melakukan hal yang baik dan benar. Salah satunya dalam berbahasa.

 

Rujukan:

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. 2016. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Jakarta.

 

Penulis : Innezdhe Ayang Marhaeni

Penyunting : Harrits Rizqi