Setiap manusia memiliki kekhasan dalam berujar, mulai dari pilihan diksi, intonasi, hingga penggunaan jeda. Berbeda dengan ragam tulisan, kita sering kali sulit untuk menghindari keragu-raguan dalam tuturan lisan. Tak jarang, ungkapan jeda, seperti eh, apa itu, atau hmm, terucapkan.

Dalam linguistik, jeda-jeda seperti itu disebut sebagai jeda terisi (filled pause), yakni keragu-raguan dalam wicara spontan. Jeda terisi kerap juga disamakan dengan bentuk tegun (hesitation form), yaitu bunyi atau kata yang diucapkan karena pembicara ragu-ragu atau sedang mencari ungkapan yang cocok.

 

Pastinya, Kerabat Nara memiliki teman atau kenalan yang banyak menggunakan bentuk tegun dalam sebuah tuturan. Kita bisa menganalisis bentuk tegun tersebut sebagai ciri khas mereka dalam berbicara. Nah, sekarang, apakah dalam tuturannya, Presiden Joko Widodo juga sering menggunakan bentuk tegun?

Saya lantas menonton ulang video-video yang diunggah pada IGTV akun Jokowi. Pada 2 Agustus 2021, Bapak Presiden kita menyampaikan perasaan senang dan bangga atas keberhasilan Apriyani Rahayu dan Greysia Polii dalam meraih medali emas. Pada detik 27, Jokowi mengatakan, “Sekali lagi, selamat atas keberhasilan mempertahankan, ee, tradisi emas olimpiade bagi Indonesia.” Kemudian, pada detik 47, beliau menggunakan bentuk tegun apa dan ee dalam kalimat, “Jujur, saya, apa, saya sangat bangga, apalagi waktu, ee, ‘Indonesia Raya’ berkumandang.”

“Tapi saya lihat, ee, set kedua jauh lebih tenang,” lanjut Jokowi. Beliau meneruskan, “Ya, selamat juga untuk, ee, pelatih.”

Dalam video yang diunggah pada 6 Agustus 2021, Presiden Jokowi juga menggunakan bentuk tegun dalam kalimat, “Iya, ini mohon maaf, karena pandemi, tidak bisa menerima semuanya, tapi tadi sudah saya sampaikan ke Pak Togu, lima belas, apa, ee, hutan adat, akan saya selesaikan bulan ini.” Kita bisa menyaksikan lagi bentuk tegun apa pada video tanggal 23 Juli 2021 dalam kalimat, “Anak-anakku semuanya, sebetulnya ‘kan kita rencananya di bulan Juli, akan dibuka sekolah tatap muka lagi. Iya, ‘kan? Tetapi, karena pandemi virus Korona, apa itu, naik lagi, sehingga rencana itu dibatalkan.”

 

Dari tiga video tersebut, kita dapat melihat ciri khas Jokowi dalam bertutur, yakni dalam penggunaan bentuk tegun ee, apa, dan apa itu. Mungkin kita bisa berasumsi bahwa bentuk tegun adalah bukti tidak lancarnya seseorang dalam bertutur. Namun, pada lain sisi, kita bisa juga beranggapan bahwa bentuk tegun mampu menyelamatkan seseorang dari kekeliruan pemilihan kata. Terlebih, bentuk tegun membuktikan bahwa penutur memikirkan kata atau kalimat yang hendak dia ucapkan. Dengan kata lain, bentuk tegun mencerminkan seseorang yang berpikir dalam berbahasa.

Perlu dicatat, Kerabat Nara, bentuk tegun yang diucapkan Presiden Jokowi seringnya saya temukan di luar pidato-pidato. Hingga saat ini, saya belum menemukan pidato Presiden Jokowi yang mengandung bentuk tegun. Tentu saja, hal ini tidak terpisahkan dari adanya naskah panduan yang mungkin sudah Jokowi pelajari sekaligus dia baca saat berpidato.

#bentuktegun #jedaterisi

Rujukan:

  • Gósy, dkk. 2014. “Phonetic characteristics of filled pauses: the effects of speakers’ age”. Prosiding 10th International Seminar on Speech Production (ISSP). Cologne: 5–8 Mei 2014, hlm. 150–153. 
  • Kridalaksana, Harimurti. 2009. Kamus Linguistik: Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • Tottie, Gunnel. 2017. “From pause to word: uh, um and er in written American English”. Dalam Jurnal English Language and Linguistics, Volume 23, Issue 1, Maret hlm. 105–130. United Kingdom: Cambridge University Press.

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin