“ … di dalam kehidupan individu dan masyarakat, tidak ada faktor yang lebih penting daripada langage.” Demikian Ferdinand de Saussure berpendapat dalam Cours de Linguistique Générale (1973) yang diterjemahkan oleh Rahayu S. Hidayat pada 1988. Langage, menurut Kamus Linguistik Edisi Keempat (2009), adalah  ‘bahasa manusia yang mempunyai 2 perwujudan, yakni langue dan parole’. Langue mengartikan bahasa sebagai sistem bentuk yang terdapat dalam akal budi pemakai bahasa, sedangkan parole merupakan perwujudan langue, yaitu perbuatan berbicara seorang penutur bahasa. Saussure menekankan bahwa sebagai bagian dari linguistik, keduanya memainkan peran yang penting dalam kehidupan sehari-hari.

Apa yang diungkapkan oleh Saussure bertitik berat pada penggunaan bahasa. Kita tahu, bahasa adalah sarana komunikasi. Dengannya, manusia bisa saling mengenal dan berinteraksi. Bahkan, kita juga berdoa dengan menggunakan bahasa. Boleh dibilang, bahasa adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam keseharian kita. Namun, apa fungsinya mempelajari linguistik, sebuah ilmu yang meneliti bahasa?

Sepintas lalu, kita bisa berkata bahwa linguistik memberikan manfaat bagi mereka yang pekerjaannya bersinggungan dengan masalah kebahasaan. Guru bahasa, penerjemah, penyusun kamus, dan jurnalis hanyalah segelintir contoh profesi yang memerlukan pengetahuan bahasa. “Mengapa, misalnya, me + baca menjadi membaca, sedangkan me + dengar menjadi mendengar?” Tanya Abdul Chaer. Menurut beliau, seorang guru bahasa harus bisa menjelaskan kaidah pembentukan dua kata tersebut.

Sementara itu, wawasan linguistik seorang penerjemah sebaiknya tidak hanya terbatas pada tataran morfologi, sintaksis dan semantik. Ketika mengalihbahasakan “What’s your name?” menjadi “Siapa namamu?”, penerjemah sebetulnya sudah menjamah area sosiolinguistik dan linguistik kontrastif. Bukan kata yang diterjemahkan, melainkan makna yang berkaitan dengan konteks dan budaya suatu bahasa.

Kemudian, dalam penyusunan kamus, seseorang membutuhkan pengetahuan leksikologi dan leksikografi. Dua hal ini, menurut saya, hanya bisa dipelajari dengan dedikasi yang tinggi sebab penyusunan kamus bertalian dengan sebagian besar tataran linguistik, seperti fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Terlebih, seorang jurnalis yang tidak tahu caranya merangkai kalimat berpotensi membuat sebuah tulisan yang sukar dimengerti.

Lebih dari itu, linguistik juga inheren dengan fenomena sosial dan budaya. Kridalaksana dalam “Bahasa dan Linguistik” menyatakan bahwa linguistik dapat dikategorikan sebagai salah satu ilmu pengetahuan sosial budaya atau humaniora. Baru-baru ini, penggunaan kata koruptor dan maling menjadi sorotan netizen. Tentu ini menyangkut fenomena sosial dan bahasa. Contoh lain adalah kasus Ahok pada 2017 yang tidak terpisahkan dari permasalahan bahasa. Jika ditarik lebih jauh lagi, suatu rezim pernah dianggap menggunakan bentuk-bentuk eufemisme (penghalusan makna) untuk membiaskan tindakan represi.

Perlu digarisbawahi, linguistik tidak hanya mempelajari kata-kata baku atau kalimat yang efektif. Beberapa orang masih menganggap bahwa hanya dua hal itulah yang dikerjakan oleh seorang linguis dan guru adalah satu-satunya lapangan pekerjaan yang menanti seorang pegiat bahasa. Padahal, apabila ditelusuri lebih dalam, banyak sekali manfaat yang dapat kita temukan ketika mempelajari linguistik.

#linguistik

Rujukan:

  • Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
  • Kridalaksana, Harimurti. 2009. Kamus Linguistik: Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • Kushartanti, dkk. (ed). 2005. Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.
  • Saussure, Ferdinand de. 1988. Pengantar Linguistik Umum. Terjemahan oleh Rahayu S. Hidayat. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin