Saya tidak ingat kapan tepatnya saya tergerak untuk menggali bahasa Indonesia. Semasa sekolah, saya tidak tertarik, tetapi juga tidak membenci pelajaran bahasa Indonesia. Biasa saja. Mungkin, guru-guru saya waktu itu tidak mampu memicu saya untuk menyelami bahasa Indonesia lebih jauh. Di sisi lain, bisa saja, saya justru termakan omongan orang-orang bahwa bidang bahasa Indonesia tidak bisa menjanjikan masa depan yang aman.

Ada kemungkinan juga bahwa kedua faktor tersebut saling bertimbun. Orang-orang di luar menganjurkan saya untuk untuk giat mendalami matematika, fisika, kimia, bahkan bahasa Inggris. Sementara itu, sedikit sekali inti sari dari pelajaran bahasa Indonesia semasa SD, SMP, dan SMA yang berhasil saya ingat pada hari ini.

Satu kesan yang paling saya ingat adalah ketika diminta untuk mengarang dan membaca puisi di depan kelas. Waktu itu saya duduk di bangku SMA dan tidak ada pelajaran sastra. Guru saya menampilkan sebuah video sebagai contoh pembacaan puisi. Adalah penampilan W.S. Rendra dalam membacakan “Sajak Pertemuan Mahasiswa” yang menyihir perhatian saya. Dengan bangganya, saya menirukan gaya pembacaan beliau di depan kelas.

Setelah itu, saya jadi penasaran terhadap tokoh-tokoh lain dalam dunia sastra. Penelusuran pun dilakukan. Saya menemukan puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Saya membaca cerpen-cerpen pada harian Kompas. Koleksi komik pada rak buku berganti menjadi judul-judul novel. Barulah sesudahnya, saya berkenalan dengan seluk-beluk bahasa, mulai dari membuka kamus hingga menyerap gaya penulisan kalimat. Saya lantas mengulik jenis-jenis metafora, cara-cara membangun paragraf, dan lapis makna sebuah kata.

Saya rasa, sastra adalah salah satu sarana yang bisa memantik hasrat seseorang dalam belajar bahasa. Dalam The Routledge Handbook of Language and Creativity (2015), Gillian Lazar menjelaskan bahwa teks sastra telah dianggap mampu menstimulasi semangat pemerolehan bahasa, mengekspos budaya dan fenomena bahasa kepada pelajar, serta mengajak pelajar untuk aktif berpartisipasi secara kognitif dan emosional. Sastra juga dinilai mampu memberi contoh penulisan gramatika yang baik dan penggunaan kosakata yang beragam. Lebih dari itu, Lazar menambahkan bahwa sastra bisa melibatkan emosional pelajar dengan cerita yang dikemas lewat estetika bahasa.

Akan tetapi, tentu saja ada perdebatan dalam diskursus ini. Karya sastra memiliki larasnya sendiri. Gaya bahasa yang digunakan dalam karya sastra tentu tidak bisa sepenuhnya diterapkan pada tugas-tugas di sekolah. Kemudian, kita tahu karya fiksi bersangkut-paut dengan selera. Di sinilah, saya kira, pelajar membutuhkan pengajar yang kompeten dan menggali karya sastra. Perlu juga keterlibatan institusi pendidikan untuk menentukan kurikulum yang pas.

Semasa saya bersekolah, soal-soal pelajaran bahasa Indonesia sering kali memuat kutipan dari suatu karya sastra. Maman S. Mahayana pernah menulis, “Apa manfaatnya peserta didik mengetahui, memahami, dan hafal di luar kepala tentang alur, tokoh, tema, latar, sudut pandang, dan berbagai jenis bahasa jika mereka sama sekali tidak menyentuh karya sastranya?” Soal-soal tersebut pun, sebagian besar, hanya dapat dijawab melalui pilihan ganda. Alhasil, selain terbiasa dengan kutipan dan bukan karya yang seutuhnya, saya merasa tidak punya ruang untuk menuangkan pengetahuan bahasa saya ke dalam tulisan yang panjang.

Di samping itu, dalam esai “Sastra di Sekolah”, Sapardi menjelaskan bahwa setidaknya ada tiga permasalahan yang harus dipecahkan dalam pengajaran sastra di sekolah. Masalah pertama adalah soal bahan bacaan. Hal ini menyangkut pemerataan distribusi bacaan dan pembangunan perpustakaan. Saya jadi teringat, Dea Anugrah pernah berkata bahwa minat membaca orang Indonesia itu tidak rendah, tetapi distribusi bacaannya yang tidak merata. Kemudian, masalah kedua adalah pemilihan karya sastra yang cocok digunakan sebagai bahan pengajaran. Lalu, masalah ketiga adalah peran guru dalam membina murid-muridnya. Menurut Sapardi, dalam mengapresiasi karya sastra, seorang guru harus memiliki pengalaman membaca dan wawasan yang lebih luas daripada muridnya. Terlebih, seorang guru juga sebaiknya tidak memaksakan tafsir tunggal terhadap pemaknaan karya sastra oleh murid.

Mungkin, bukan saya saja yang merasa bahwa pembelajaran sastra bisa meningkatkan keinginan untuk menyelami bahasa Indonesia. Cerita selalu punya peran dalam memikat perhatian. Toh, berdasarkan pengalaman saya, bukan tidak mungkin bagi kita untuk mempelajari kebakuan kata, struktur kalimat, dan keutuhan wacana melalui sebuah karya sastra.

 

#pengajaranbahasa #karyasastra

Rujukan:

  • Damono, Sapardi Djoko. 2007. “Sastra di Sekolah”. Dalam Jurnal Susastra, Volume 3, Nomor 5, hlm. 1–11. Jakarta: Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia, Yayasan Obor Indonesia.
  • Jones, Rodney H. (ed). 2015. The Routledge Handbook of Language and Creativity. Abingdon: Routledge.
  • Mahayana, Maman S. 2007. “Apresiasi Sastra Indonesia di Sekolah”. Dalam Jurnal Susastra, Volume 3, Nomor 5, hlm. 80–93. Jakarta: Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia, Yayasan Obor Indonesia.

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin