Dalam “Idiolek: Sebuah Anugerah”, Dessy sudah menjelaskan konsep idiolek lewat curhatannya. Idiolek adalah keseluruhan ciri-ciri bahasa seorang pribadi manusia. Atta Halilintar, misalnya, dikenal dengan ujaran “Ashiap”. Cara tutur Cinta Laura juga mungkin masih melekat dalam benak kita. Saat mengenang program gelar wicara pada saluran televisi nasional, kita pun bisa menemukan ujaran “Ndeso!” yang semakin populer berkat Tukul Arwana. 

Atta Halilintar, Cinta Laura, dan Tukul Arwana memiliki idioleknya masing-masing. Ciri khas mereka dalam berbahasa turut membentuk citra ketiganya di hadapan publik.

Kita perlu tahu, idiolek adalah subkajian yang dibahas dalam dialektologi atau ilmu tentang dialek. Dialektologi diartikan sebagai cabang ilmu pengetahuan bahasa yang secara sistematis menangani berbagai kajian yang berkenaan dengan distribusi dialek atau variasi bahasa dengan memperhatikan faktor geografi, politik, ekonomi, dan sosial budaya. Sementara itu, dialek merupakan variasi bahasa yang berbeda-beda menurut pemakai. Kita juga bisa mengklasifikasikan dialek lebih jauh menjadi tiga:

  1. Dialek regional: variasi bahasa yang dipakai oleh kelompok bahasawan di tempat tertentu
  2. Dialek sosial:  variasi bahasa yang dipakai oleh golongan tertentu dari suatu kelompok bahasawan
  3. Dialek temporal: variasi bahasa yang dipakai oleh kelompok bahasawan yang hidup dalam waktu tertentu

Secara berturut-turut, bahasa Melayu Riau, bahasa Melayu Tinggi para bangsawan, dan bahasa Melayu Klasik adalah contoh dialek regional, dialek sosial, serta dialek temporal.

Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, kita kini tahu bahwa idiolek melekat pada individu, sedangkan dialek merupakan milik suatu kelompok. Namun, bukan berarti keduanya tidak memiliki keterkaitan. Jika diperhatikan, Atta, Cinta, dan Tukul juga mewakili dialeknya masing-masing. Ujaran “Ashiap”, besar kemungkinannya diambil dari kata siap atau gabungan dari ah dan siap. Kata tersebut, berdasarkan pengamatan saya, cenderung digunakan oleh anak-anak muda. Berarti, besar kemungkinannya bahwa ujaran tersebut berkaitan dengan dialek sosial. Sementara itu, “Ndeso!” dan cara tutur Cinta Laura dekat dengan fenomena bahasa secara regional.

Seperti yang dituliskan oleh Dessy, idiolek memanglah anugerah. Idiolek mampu membedakan setiap manusia berdasarkan bahasanya. Di sisi lain, dialek pun juga merupakan anugerah. Variasi bahasa yang digunakan oleh seorang penutur bergantung pada tempat, lingkungan, dan mitra tuturnya. Dengan kata lain, dialek adalah apa yang mendekatkan satu manusia dengan manusia lainnya karena kolektivitas pengalaman dalam berbahasa.

 

Rujukan:

  • Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • Kushartanti, dkk. (ed). 2005. Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin