Ojek daring adalah inovasi yang memudahkan hidup sebagian masyarakat. Dengannya, mobilisasi manusia makin praktis. Kita tinggal membuka aplikasi, melakukan pemesanan, menunggu dijemput, dan berangkat ke lokasi yang dituju. Lebih dari itu, ojek daring memungkinkan kita untuk membeli makanan tanpa harus keluar rumah.

Tanpa disadari, adanya ojek daring sedikit banyak mengubah cara kita mengucapkan terima kasih. Kini, terima kasih tidak hanya ditik dalam kolom obrolan pada aplikasi ojek daring. Pemberian rating berupa bintang lima adalah wujud apresiasi kepada sopir yang telah memberikan pelayanan sebaik mungkin. Perubahan lainnya tecermin melalui menurunnya penggunaan kata ancar-ancar atau patokan sebab kita hanya perlu mengikuti rute perjalanan yang terdapat dalam aplikasi navigator.

Faktanya, teknologi memodifikasi cara komunikasi manusia. Bahasa pun berkembang karena teknologi. Hal inilah yang dikaji dalam linguistik disruptif, yang dalam buku Linguistik Disruptif: Pendekatan Kekinian Memahami Perkembangan Bahasa diartikan sebagai ‘pendekatan yang berupaya mendudukkan linguistik mengembangkan diri sehingga memiliki kapasitas yang cukup untuk menjelaskan perubahan disruptif bahasa akibat inovasi disruptif dan Revolusi Industri 4.0’. Dalam buku tersebut, Fathur Rokhman dan Surahmat (2020) mengutip pemaparan David Crystal (2004) bahwa sistem bahasa manusia bisa mengalami tiga perubahan radikal, yakni ketika bahasa Inggris dianggap sebagai satu-satunya bahasa internasional, tidak terhindarkannya fenomena kepunahan bahasa, dan perkembangan teknologi komunikasi serta internet.

Terlebih, Rokhman dan Surahmat juga menyatakan bahwa majunya teknologi bukan hanya mampu mengubah bentuk dan fungsi bahasa. Dengan mengingat saat ini kita dapat berkomunikasi melalui simbol, seperti emoji, emotikon, bintang lima pada aplikasi ojek daring, dan tombol suka (likes) dalam media sosial, perkembangan ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi dapat membawa kita pada sebuah pertanyaan mendasar: “Sebenarnya, bahasa itu apa?” 

Kajian linguistik disruptif berupaya menilik perkembangan bahasa sejak revolusi industri 4.0 yang bertalian dengan data dan digitalisasi informasi. Tugas para peneliti linguistik disruptif adalah

  1. mengidentifikasi perubahan-perubahan alamiah dan sosial akibat inovasi disruptif dan Revolusi Industri 4.0 dan dampaknya terhadap bahasa;
  2. mengevaluasi relevansi teori-teori bahasa yang telah ada dengan perubahan bahasa yang disebabkan inovasi disrupsi dan Revolusi Industri 4.0;
  3. merefleksikan perkembangan bahasa pada masa depan dan merumuskan cara untuk menyikapinya; serta
  4. mengupayakan teknik, metode, bahkan paradigma baru dalam pengkajian bahasa agar linguistik tetap relevan dengan bahasa masa kini dan masa depan.

Lewat temuan kajian linguistik disruptif, mahasiswa jurusan bahasa dan sastra dapat mengetahui konsep-konsep linguistik yang masih relevan untuk digunakan dalam penelitian. Lalu, dari kajian ini pula, para pengajar dan dosen dapat menggunakan metode dan materi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Peneliti linguistik dari berbagai kalangan pun dapat menyajikan pengetahuan bermanfaat mengenai pengambilan serta analisis data.

#linguistikdisruptif #resensi

Rujukan: Rokhman, Fathur & Surahmat. 2020. Linguistik Disruptif: Pendekatan Kekinian Memahami Perkembangan Bahasa. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin