Di luar Narabahasa, saya beberapa kali mengambil tawaran pekerjaan untuk menulis artikel. Sering kali, klien meminta saya untuk menyusun artikel yang ramah mesin pencari atau berbasis optimasi mesin pencari (search engine optimization/SEO). Dengan demikian, ada sejumlah kata kunci yang mesti saya masukkan dalam artikel. Kata-kata kunci itu digolongkan lagi menjadi dua jenis, yakni kata kunci utama dan kata kunci pendukung. Dalam sebuah artikel, satu kata kunci utama sebaiknya disebutkan sebanyak lima kali, sedangkan setiap lima kata kunci pendukung dianjurkan muncul sebanyak 1–2 kali. Lazimnya, artikel-artikel itu ditutup dengan ajakan untuk bertindak (call to action/CTA) supaya pembaca membeli produk atau memanfaatkan jasa sebuah perusahaan.

Joseph Rauch, seorang praktisi pemasaran, mengatakan bahwa optimasi mesin pencari didesain untuk robot, bukan pembaca. Saya menyimpulkannya begini. Pertama-tama, artikel yang ramah mesin pencari dibuat untuk memudahkan Google—atau mesin pencari lainnya—dalam menampilkan tulisan kita pada halaman pertama. Barulah setelah itu, pembaca, yaitu manusia, bisa menemukan artikel yang kita tulis. Agar dapat muncul pada halaman pertama, tidak jarang kita sebagai penulis wajib memperhatikan panjang tulisan, efektivitas kata kunci, dan judul yang memikat. Bahkan, tidak dapat dimungkiri, ada kalanya kaidah-kaidah kebahasaan tidak begitu penting di sini.

“Dalam tataran mikro, pertarungan kata kunci bisa merusak tatanan berbahasa manusia. Google tak peduli dengan bahasa yang baik dan benar, apalagi hidup,” tulis Bagja Hidayat (2021) dalam “Bahasa Google”. Hal ini yang kerap saya jumpai ketika klien memberikan arahan penulisan artikel. Sederet kata kunci yang mereka wajibkan, meski berlandaskan pada riset, acap membuat saya menggaruk-garuk kepala. Ditambah lagi, kata kunci tersebut terkadang berbentuk frasa dengan makna yang sukar dipahami.

Selain itu, beberapa waktu yang lalu, seorang jurnalis dari sebuah media massa daring mendapat perundungan dari netizen karena sebuah artikel. Dia menuliskan judul yang mengindikasikan pelecehan. Saya rasa, fenomena ini merupakan salah satu dampak buruk dari kebutuhan media massa dalam mengejar jumlah klik. 

Saya paham, jumlah pembaca dan kompetitor dari setiap ranah bisnis terus-terusan meningkat. Sebagai pelaku usaha, kita seolah dituntut untuk dapat meraih jangkauan audiens seluas mungkin dan menuai klik sebanyak-banyaknya, bagaimanapun caranya. Terlebih, sebagai pembaca, kita cenderung mengeklik artikel yang langsung muncul pada halaman pertama mesin pencari. Meskipun demikian, semoga kita tetap dapat memperjuangkan akurasi informasi dan kualitas tulisan, tidak sepenuhnya menghamba pada optimasi mesin pencari yang mampu mengacaukan logika berbahasa manusia, seperti yang ditulis oleh Bagja, bahkan membuat kita mengesampingkan empati.

Rujukan:

Hidayat, Bagja. 2021. “Bahasa Google”. Dalam Majalah Tempo, Desember, Jakarta.

Rauch, Joseph. 2020. “SEO Is Not About ‘Good Writing’”. Dalam Forbes. Diakses pada 27 Desember 2021.

 

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin