Kita memerlukan bahan untuk menulis—atau berbicara. Ketika menulis artikel, misalnya, setelah mendapatkan ide topik tulisan, kita akan membaca rujukan, menonton video, atau menanyakan pendapat orang lain tentang topik itu. Demikian pula ketika menulis makalah ilmiah. Kita melakukan kajian terhadap bacaan yang relevan dengan topik kita, menjalankan eksperimen atau observasi, mewawancarai narasumber, atau menyurvei pendapat responden. Kita menyiapkan bahan dengan membaca, mengamati, menanya, dan menyurvei.

1. Membaca

Membaca dapat dilakukan secara mandiri tanpa merepotkan orang lain. Keberadaan internet memudahkan pencarian bacaan. Cukup buka Google, masukkan kata kunci topik, dan voila! Ribuan bahan bacaan tersedia untuk kita. Yang penting ialah menemukan kata kunci yang tepat dan sumber bacaan yang bermutu. Jangan lupa untuk mencari cara efektif untuk memahami dan mengingat bacaan dengan cepat.

Selain menyediakan bahan, bacaan yang bermutu juga memberikan contoh bagaimana penulis yang baik merangkai gagasannya menjadi tulisan yang utuh dalam bahasa tulis. Contoh itu berguna sebagai rujukan dalam menyusun wacana, mengembangkan paragraf, merangkai kalimat, memilih kata, dan menertibkan ejaan. Penulis yang hanya mendapat asupan dalam bentuk lisan, misalnya dari tontonan YouTube, niscaya hanya akan dapat membuat tulisan berupa ucapan yang dituliskan.

2. Mengamati

Kita dapat mengamati dengan berbagai cara. Melihat peristiwa di sekitar kita, memperhatikan bahasa tubuh seseorang, dan menonton video YouTube merupakan contoh pengamatan yang kita lakukan sehari-hari. Untuk keperluan ilmiah, mengamati dilakukan dengan observasi atau eksperimen. Selain menghasilkan bahan, pengamatan dapat menjadi pemantik ide tulisan.

Pengamatan tidak hanya dilakukan dengan melihat, tetapi juga dengan mendengar, menghidu, mengecap, dan meraba. Wacana deskriptif yang dilengkapi hasil pengamatan dari lima indra (mata, telinga, hidung, lidah, dan kulit), misalnya, lebih lengkap menggambarkan objek kepada pembaca daripada penggambaran semata secara visual. Keterampilan untuk mencerap dari pelihatan, pendengaran, penghiduan, pengecapan, dan perabaan tersebut perlu dilatih.

3. Menanya

Membaca dan mengamati saja kerap tidak cukup untuk mengumpulkan bahan tulisan. Kita perlu bertanya kepada orang lain untuk mendapatkan informasi yang tidak tersedia dari bacaan dan amatan. Selain itu, pertanyaan juga dapat diajukan sebagai bentuk konfirmasi. Beberapa orang bahkan hanya mengandalkan menanya untuk memperoleh informasi. Ini terlihat, misalnya, pada anak kecil yang tidak berhenti bertanya karena belum dapat membaca dan belum bijak mengamati.

Pertanyaan akan lebih tajam ketika didasari oleh informasi awal yang diperoleh dari membaca atau mengamati. Sebagai contoh, seorang wartawan atau mahasiswa yang mewawancarai narasumber untuk bahan berita atau skripsi akan memperoleh informasi yang lebih banyak ketika mereka sudah dibekali dengan informasi dari bacaan atau amatan. Kebiasaan untuk mencari keterangan secara mandiri lebih dahulu sebelum bertanya perlu ditumbuhkan.

4. Menyurvei

Kumpulan subjektivitas akan membentuk objektivitas. Itulah prinsip dasar pelaksanaan survei. Dalam penelitian ilmiah, survei diadakan untuk memperoleh data dari sebuah populasi dengan penyebaran kuesioner atau jajak pendapat. Dalam bentuk yang sederhana, contoh survei kita lihat pada nilai bintang yang diberikan orang terhadap penjual atau barang di lokapasar (marketplace).

Pelaksanaan survei relatif lebih sulit dan lama daripada membaca, mengamati, atau bertanya. Kuesioner survei perlu dirancang dengan metode tertentu agar mendapat data yang sesuai dengan harapan. Selanjutnya, survei harus disebar untuk mendapat sampel yang memadai untuk populasi yang disasar. Terakhir, hasil survei perlu dianalisis sesuai dengan metode statistik yang dipilih.

Dari keempat cara untuk menyiapkan bahan wacana tersebut, membaca dan mengamati tampak relatif lebih mudah dilakukan, sedangkan bertanya dan menyurvei lebih sulit. Namun, bertanya dan menyurvei kadang perlu dilakukan untuk mendapat informasi tambahan atau konfirmasi informasi. Ayo, baca, amati, tanyakan, dan survei suatu topik sebagai bahan tulisanmu.

Rujukan

  • Keraf, Gorys. 2001. Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Ende: Nusa Indah.
  • Maguire, Miles. 2014. Advanced Reporting: Essential Skills for 21st Century Journalism. New York: Routledge.

Penulis: Ivan Lanin

Penyunting: Dessy Irawan