Buah pikiran tidak hanya dapat disampaikan lewat sebuah tulisan. Dalam keseharian, kita pun memanfaatkan ragam lisan untuk mengungkapkan gagasan dan bertukar pesan.

Pada era Yunani Kuno, pelisanan lebih dikenal dengan istilah retorika. Penyampaiannya kental dengan gaya berpidato yang mementingkan keindahan berbahasa. Pada era retorika klasik, ada beberapa ketentuan yang ditetapkan dalam penyusunan pidato:

  1. Inventio atau heuresis: penemuan atau penelitian materi-materi
  2. Dispositio, taxis, atau oikonomia: penyusunan dan pengurutan materi dalam berpidato
  3. Elocutio atau lexis: pengungkapan atau penyajian gagasan dalam bahasa yang sesuai
  4. Memoria atau mneme: penghafalan pidato
  5. Actio atau hypokrisis: penyajian pidato

Kini, kita lebih mengenal istilah public speaking atau wicara publik. Pada awal kemunculannya, pidato betul-betul mengandalkan keindahan kata-kata. Namun, wicara publik dapat dibilang lebih berfokus pada efektivitas penyampaian pesan. Nordquist (2020) dalam “The Art of Rhetoric Communication” menyatakan bahwa wicara publik lebih menyoroti reaksi dan partisipasi audiens daripada teknik-teknik orasi.

Yang menarik untuk digali lebih jauh adalah perbedaan antara pidato dan ceramah. Menurut saya, keduanya cukup sulit untuk dibedakan. Namun, Fabien Delorme dalam tulisannya berpendapat bahwa pidato cenderung lebih pendek ketimbang ceramah. Pembaca pidato juga bisa saja meminta orang lain untuk menuliskan naskahnya. 

Pada lain sisi, ceramah biasanya lebih panjang dibanding pidato. Bahkan, seorang guru yang menerangkan materi pelajaran kepada muridnya dapat dibilang sedang berceramah. Berbeda dengan pidato, audiens boleh mengajukan pertanyaan atau sanggahan kepada penceramah. Kemudian, muatan ceramah cenderung bersifat edukatif.

Jika kita merujuk pada KBBI, ceramah seolah-olah tergolong ke dalam pidato. Pidato berarti ‘pengungkapan pikiran dalam bentuk kata-kata yang ditujukan kepada orang banyak’ dan ‘wacana yang disiapkan untuk diucapkan di depan khalayak’. Sementara itu, ceramah adalah ‘pidato oleh seseorang di hadapan banyak pendengar, mengenai suatu hal, pengetahuan, dan sebagainya’. Namun, ceramah juga memiliki makna adjektiva, yaitu ‘suka bercakap-cakap (tidak pendiam); ramah’ dan ‘cerewet; banyak cakap; nyinyir’. Makna yang terakhir ini dapat menarik garis yang tegas untuk membedakan pidato dengan ceramah.

Meskipun ceramah dan pidato merupakan bentuk penyajian lisan, keduanya dapat sedikit dibedakan. Tujuan dan durasinya tidak sama. Terlebih, saya rasa, konteks penggunaannya juga berbeda. Kita lebih sering mendengar istilah ceramah keagamaan dibanding pidato keagamaan, ‘kan? Begitu juga sebaliknya, pidato kebangsaan terdengar lebih umum daripada ceramah kebangsaan

#pidato #ceramah

Rujukan:

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin