Pada bagian awal buku, biasanya kita berhadapan dengan halaman kata pengantar atau prakata. Selama ini saya mengira bahwa keduanya sama saja. Ternyata, kata pengantar bukanlah prakata. Keduanya memang bertugas sebagai gerbang bagi pembaca sebelum menyelami isi buku. Namun, ada perbedaan yang harus diperhatikan. 

Kata pengantar adalah sambutan yang dituliskan oleh orang lain mengenai sebuah buku. Biasanya kata pengantar ditulis oleh seorang pemimpin, baik itu redaktur maupun ketua program, atau bisa juga seorang eksper yang dianggap pantas untuk menuliskannya. Dalam bahasa Inggris, kata pengantar disebut foreword, yang menurut Tucker Max bisa berfungsi untuk menaikkan kredibilitas penulis. Sejujurnya, saya pernah membeli buku karena kata pengantarnya ditulis oleh seorang pengarang besar, sekalipun nama penulis isi buku tersebut tidak saya ketahui. Pada momen-momen tertentu, saya rasa, ada baiknya jika kita menilai sebuah buku bukan dari sampul atau harganya, melainkan dari rekam jejak penulis kata pengantarnya.

Pada lain sisi, prakata atau preface ditulis oleh penulis buku itu sendiri. Di sini, penulis bisa memaparkan latar belakang, konteks, atau rangkuman buku. Penulis pun berkesempatan untuk menjelaskan pengalaman-pengalaman menarik saat karya tersebut sedang digarap, bahkan mengungkapkan harapan atas terbitnya buku itu.

Jelas sudah perbedaan antara kata pengantar dan prakata. Yang saya herankan, sewaktu menulis skripsi, saya dengan bangga membubuhkan judul “Kata Pengantar” dan lolos dari revisi. Ah, jangan-jangan karena memang pembimbing atau dosen penguji saya tidak pernah membacanya.

 

Rujukan:

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin