Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) adalah sebuah sarana untuk mengukur kompetensi seseorang dalam menggunakan bahasa Indonesia. Dalam tes ini, peserta menjawab soal-soal yang terangkum dalam lima seksi, yaitu Mendengarkan, Merespons Kaidah, Membaca, Menulis, dan Berbicara. Berdasarkan ketepatan jawaban, peserta UKBI akan mendapatkan nilai berupa skor, predikat, dan peringkat. Perhatikan tabel berikut.

Peringkat Predikat Skor
I Istimewa 725–800
II Sangat Unggul 641–724
III Unggul 578–640
IV Madya 482–577
V Semenjana 405–481
VI Marginal 326–404
VII Terbatas 251–325

Pemeringkatan di atas diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2016 tentang Standar Kemahiran Berbahasa Indonesia. Selain itu, peraturan tersebut juga menetapkan standar minimal pada sepuluh jabatan profesional di Indonesia. Seseorang dengan jabatan di TNI/Polri, misalnya, paling tidak harus mencapai predikat Unggul dan Madya. Seorang penerjemah minimal mendapatkan predikat Unggul. Sementara itu, pekerja bangunan dan tukang kayu sebisa mungkin harus meraih predikat Semenjana. Coba simak baik-baik tabel di bawah ini.

No. Profesi Jabatan Standar Minimal
1. TNI/Polri Pimpinan Kesatuan Unggul
Anggota Madya
2. Manajer Pimpinan Lembaga/Instansi Sangat Unggul
Manajer Produksi Madya
Manajer Keuangan Madya
Pimpinan Eksekutif Unggul
Rektor Sangat Unggul
Kepala Sekolah Unggul
3. Profesional Penulis Unggul
Wartawan:
– Muda Madya
– Madya Unggul
– Utama Unggul
Penerjemah:
– Penerjemah Unggul
– Juru Bahasa Unggul
Psikolog Unggul
Peneliti:
– Pertama Unggul
– Muda Unggul
– Madya Sangat Unggul
– Utama Sangat Unggul
Penyuluh Sangat Unggul
Guru:
– Guru Bahasa Indonesia Unggul
– Guru Nonbahasa Indonesia Madya
Dosen Unggul
Guru Besar Sangat Unggul
Dokter:
– Dokter Umum Unggul
– Dokter Spesialis Sangat Unggul
Widyaiswara:
– Widyaiswara Pertama Unggul
– Widyaiswara Muda Unggul
– Widyaiswara Madya Unggul
– Widyaiswara Utama Unggul
Hakim Unggul
Pengacara Unggul
Notaris dan/atau PPAT Madya
Penyiar Unggul
Pencipta Lagu Madya
Jaksa Madya
Pewara Unggul
Pembicara di Depan Umum Unggul
Anggota DPR/DPD/DPRD Madya
Editor:
– Editor Mula Unggul
– Editor Madya Sangat Unggul
– Editor Kepala Istimewa
4. Teknisi/Asisten Ahli Teknisi Semenjana
Asisten Ahli Semenjana
5. Tenaga Tata Usaha Sekretaris Sangat Unggul
Juru Tik Unggul
Resepsionis Madya
6. Tenaga Usaha dan Jasa Penjualan Pramuwisata Madya
Pramusaji Madya
Pramugari Madya
Juru Masak Semenjana
7. Pekerja Terampil Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Petani Marginal
Peternak Marginal
Nelayan Marginal
8. Pekerja Pengolahan dan Kerajinan Pekerja Bangunan Semenjana
Tukang Kayu Semenjana
9. Operator dan Perakit Operator Mesin Semenjana
Perakit Mesin Semenjana
Sopir Madya
10. Pekerja Kasar Pramuwisma Semenjana
Tenaga Kebersihan Marginal
Buruh Marginal
Pengasuh Bayi Semenjana
Penjaga Kebun Marginal

Standar tersebut disusun bagi penutur jati bahasa Indonesia dan berdasar pada tingkat kebutuhan setiap profesi. Saya punya beberapa pertanyaan. Mengapa hanya editor kepala yang wajib mencapai predikat Istimewa? Bukankah guru bahasa Indonesia juga sebaiknya memiliki skor yang sempurna? Lebih lanjut, mengapa profesi pekerja bangunan dan tukang kayu hanya diharapkan mampu meraih predikat Semenjana? Bukankah menempatkan predikat Marginal sebagai standar minimal pada profesi pekerja kasar bisa menyiratkan bahwa tenaga kebersihan, buruh, dan penjaga kebun memiliki kemampuan yang rendah dalam berbahasa Indonesia?

Barangkali, perumus peraturan Standar Kemahiran Berbahasa Indonesia sudah meriset tingkat keterpaparan setiap profesi dengan bahasa Indonesia. Alangkah baiknya, alasan yang komprehensif mengenai penetapan standar minimal tersebut juga disertakan, baik di dalam Permendikbud maupun dipublikasikan terpisah melalui artikel.

#UKBI

Rujukan: Republik Indonesia. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2016 tentang Standar Kemahiran Berbahasa Indonesia. Jakarta: Republik Indonesia.

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin